Friday, September 18, 2020

, ,

New Journey With Photography

Rejeki itu datangnya bisa dari mana aja, dalam bentuk yang tak terduga-duga, melalui perantaran siapa saja yang Allah kehendaki. Saya yakin dan percaya hal itu. 

Punya suami yang kegiatan sehari-harinya berhubungan dengan kamera, bukan berarti ada jaminan kalau istrinya (yang juga suka foto-foto benda, pakai hp tapinya) akan paham juga soal kamera. Bahkan di bulan ke 7 pernikahan, saya baru tau kalau kamera suami itu adalah kamera yang pernah sempat saya idam-idamkan masa kuliah dulu, 9-10 tahun yang lalu. Tapi karena kamera itu masih berstatus inventarisnya suami, ya saya cuma sekedar tau tanpa berani mencoba menggunakannya. 

Qadarullah, dan dengan rejeki dari Allah juga, pekerjaan suami mengharuskan dia untuk beli kamera lain yang lebih mumpuni. Jadilah saya ketiban rejeki kamera lama yang kondisinya masih cukup bagus. Well, untuk seorang pemula, kamera sederhana sekalipun akan jadi barang berharga kan :D 


Adenium Obesum di halaman


Jadilah sejak beberapa waktu lalu, saya menjebloskan diri di dunia photography ala-ala. Kata orang, pasti seru dimentorin sama suami. Faktanya, di awal pasti dimarahi mulu karena gak ngikuti arahannya. Yah mau gimana ya, bukan gak ngikutin padahal, tapi emang gak paham disuruh apa hahaha. 

Objeknya pun di awal cuma berani dengan bunga-bunga. Itu juga bunga di halaman tetangga haha. Baru belakangan setelah ngerapiin halaman di rumah sendiri, bunga-bunga seadanya jadi objek juga haha. Padahal dari dulu, saya ingin sekali mendokumentasikan ekspresi orang. Ntah lah, mata itu selalu jadi objek menarik dan bikin saya penasaran dengan apa yang dipikirkan seseorang dengan pandangannya saat itu. 

Bunga Suplir yang tumbuh liar di halaman belakang

Tapi untuk itu, saya masih belum mampu dan g berani juga. Tetap harus ijin kali ya, biar nyaman fotonya.

Kalau diitung-itung, selama pandemic ini, beberapa hobi terealisasikan, beberapa keinginan di masa lalu juga alhamdulillah dapat. Mulai dari pengen punya apotek hidup di rumah, alhamdulillah pelan-pelan mulai banyak tanaman di apotek hidup. Bunga-bunga yang awalnya agak malas, malah jadi addict sendiri, kemana-mana susah karena mikirin tanaman siapa yang siram haha. Pengen belajar foto, alhamdulillah pelan-pelan mulai menggeluti.  Sama halnya dengan mengutak-atik tampilan feed di sosial media. Dari yang awalnya gaptek dengan software yang ntah apa-apa fungsinya, belakangan mulai familiar walaupun ide kreatifnya tetap aja susah munculnya haha. Sekarang lagi penasaran dengan foto produk, ntah lah ya, bagian ini kayaknya butuh latihan ekstra . 

Mint, otw hidup atau gak ya :D

Pandemic ini memaksa kita melakukan hal-hal yang biasanya gak sempat dikerjakan, hal-hal yang gak mungkin dikerjakan, akhirnya terealisasikan. Dari yang ceritanya gak cukup waktu, akhirnya banyak sekali waktu.  Buat ngisi waktu, banyak yang bisa dikerjain. Gak perlu cari hobi mahal, gak perlu keluar uang buat beli barang-barang, mungkin bisa dicoba dari lingkungan sekitar, dari rumah sendiri. 

Well, walaupun kerjaan kantoran juga gak berkurang, malah semakin banyak saja :D 






0 comments:

Post a Comment