Sunday, July 19, 2020

Hari ini, aku rindu bapak, lagi

Rindu bapak, seolah jadi kalimat tabu. Mengungkapkan perasaan seperti ini bukanlah sesuatu yang normal di rumah, di keluarga besar. Tapi belakangan aku mencoba mengganti yang dianggap tabu menjadi sesuatu yang pada hakikatnya adalah hal yang biasa. Aku mengakui rasa dengan kata, yang diucapkan secara lugas, bahwa aku rindu sosok yang tak pernah kukenal dan tak ada kenangan tentangnya. Ungkapan ini seolah menjadi salah satu pengobat rasa.



Sejak menikah, frekuensi rindu ini semakin menjadi-jadi. Bisa jadi karena setahun terakhir aku tidak ziarah ke kuburan bapak. Di saat rindu semakin menjadi-jadi, covid menghampiri. Lagi, bepergian keluar kota masih tidak memungkinkan. Beberapa kali merencanakan pulang, selalu saja ada halangan yang tak bisa dielakkan. Rindu bertemu, tapi kondisi tak memungkinkan.

Doa untuknya? selalu.

Di awal menikah, suami cukup bingung menghadapi diri ini yang semenit-menit rindu, setiap saat bisa berubah mood karena rindu. Bahkan ketika ayah mertua datang, aku yang masih beradaptasi dengan tiba-tiba punya ayah, mendadak moody. Jika bapak ada, aku akan bagaimana, jika bapak mengatakan hal A, aku akan merepson seperti apa.Alhamdulillah, bersyukur punya suami yang cukup bisa menerima kondisi rindu ini.

Awalnya cuma sebagai pendengar yang baik, hingga perlahan suami mulai menanyakan, bagaimana mungkin aku rindu seseorang yang tentangnya tak ada yang kuketahui, yang kenangan tentangnya bahkan tak ada sama sekali. Sama, seandainya aku tau, aku bisa langsung menjawab.

Bapak, akuu rindu, cuma pengen ngobrol sama bapak, cuma pengen duduk di samping kuburan bapak, trus cerita macan-macam. Udah.

Aku rindu, selalu.





0 comments:

Post a Comment