Monday, March 30, 2020

Pulau Nasi, Nagihin!

Iseng-iseng sore ini nyoba buka blog lagi, sekedar untuk ngeliat postingan tentang pulau nasi yang pernah ditulis. Unglaublich, gak pernah ditulis! Padahal udah berkali-kali main ke pulau ini. Sekayak ngaku-ngaku suka kopi tapi gak pernah minum. Terlalu.

Dulu, pernah sekalinya ditanya sama profesor dari Jerman, nama dua pulau yang terletak di kecamatan Pulo Aceh, jawablah saya dengan bahasa jerman yang terbata-bata mencoba menerjemahkan nama kedua pulau itu ke dalam bahasa mereka, yang kalau di-english-kan juga gak kalah aneh. PAdahal ngapain juga diterjemahin ya, nama ya nama aja :D

So.. kembali ke Pulau Nasi. Ada apa dengan pulau ini?

Pulau Nasi merupakan sebuah pulau yang jaraknya sekitar 1 jam perjalanan dengan menggunakan boat, atau 2,5 jam kalau menggunakan ferry. Pulau kecil yang dikelilingi pantai-pantai nan cantik ini terlalu indah untuk dilewatkan, tapi faktanya emang terlalu sering di skip dari list tempat liburan.

Keindahan Pulau Nasi, Pulo Aceh
Keindahan Pulau Nasi, Pulo Aceh


So, what actually can we do while in the island? Secara pribadi, ada 2 hal utama yang emang selalu, senantiasa dilakukan tiap kesini. Dan terus berulang ketika ke pulau-pulau yang lainnya juga

1. Ngopi.

Duh, bagian ini kenapa susah sekali untuk dikurangi frekuensinya. Malah makin ke pulau frekuensinya bertambah beberapa kali lipat. Bikin tajub memang :D

Begitu kapal merapat di dermaga Deudap, kita akan langsung ketemu dengan beberapa warung kopi lokal. Boleh pilih salah satunya, pesan secangkir kopi - sesuai pilihan masing-masing -, lalu duduk di dekat pantai, di bawah pohon nan rindang, sambil menikmati sajian alam nan menawan. Angin yang berhembus juga bikin kita betah lama duduk di sini.

ngopi di dermaga deudap
begitu nyampe, ngopi dulu kita

Kebayang suatu hari nanti, akan bawa laptop untuk kerja di sini, sedang di hari-hari yang lain cukup bawa buku bacaan, atau malah cuma ngopi sambil mendengar deburan ombak. Ini kalau ceritanya semingguan di pulau hehe

Ngopi selanjutnya, ketika sampai di lokasi dekat kita nginap. Beberapa kali kesini kita berencana untuk menginap di resort yang dibangun pemerintah di Pantai Nipah, atau setidaknya sekedar masang hammock / tenda di pantai yang sama. Sayangnya, izin bermalam di daerah ini gak pernah dapat karena ada beberapa anggota perempuan yang ikut dalam rombongan. Jadilah tiap kesana nginapnya di Pasi Janeng. 

Nah, setiap kesini, kondisinya selalu berubah, semakin baik tentunya. Dari sebelumnya pantainya lepas banget gak ada hambatan apa-apa, sampai apik dengan penambaha infrastruktur yang sangat memudahkan nelayan melabuhkan kapal mereka. 


Ngopi di dermaga deudap
Ngopi di dermaga deudap
Di sini, ada bebrapa warung kopi lokal juga. Dari kopi instant, sampe kopi semi instant pun ada hehe. Yang pasti, harganya jauh di bawah harga di Banda Aceh sendiri. Kalau hari masih terang, kita bisa menikmati segala sajian di warung kopi sambil ngobrol dengan teman-teman seperjalanan dan juga warga lokal. Begitu malam tiba, duduklah di dekat kapal-kapal dilabuhkan. Cahaya lampu yang terbatas, tidak ada bising kendaraan, segelas kopi hangat, sedikit menengadahkan kepala, maka akan terhidang pemandangan langit yang penuh dengan bintang. Sesuatu yang terlihat sederhana tapi tidak kita dapatkan di kota yang malamnya penuh dengan cahaya.

Saya pribadi, paling menikmati di bagian memandangi bintang ini. Apalagi kalau malamnya ada agenda ke sisi lain pulau yang untuk kesananya harus naik mobil pickup. 

Karena semalaman di sini, maka sampe besok, kerjaan kita ya ngopi, ngopi, ngopi lagi. Tenang, jangan khawatir bangkrut lah, di sini aman kali soal biaya makan. Murah dan selalu bikin bahagia :D

2. Nge-pantai

Kalau mau menikmati pantai di pulau ini, bisa dengan mengelilingi pulau - yang udah pasti sejauh mata memandang bisa menikmati air laut yang dengan gradasi birunya. Cara lainnya, ya main dari satu pantai ke pantai lainnya. 

Biasanya, dan seringnya, begitu sampai di Deudap (lanjut ngopi yang durasinya kadang suka bikin lupa waktu), kita main ke pantai Ujong Kaca kachu Ada mercusuar kecil di sini, kali aja pengen ngeliat pulau dari lokasi yang agak lebih tinggi ya kan, yaa walaupun mercusuarnya goyang kalau anginnya lumayan kencang :D. Si teman yang baru pertama kali mengikhlaskan diri untuk gosong di pulau ini takjub dan gak mau pindah dari pantai ini. Terlalu cantik dan terlalu indah untuk dilewatkan katanya. Dan juga karena belum liat pantai-pantai cantik lainnya.

Salah satu sudut Ujung Kacakachu Pulau nasi
Salah satu sudut Ujung Kacakachu

Ada lagi pantai Mata ie, kalau cahaya matahari lagi bagus-bagusnya, warna air laut juga gak mau kalah, cantiknya mashaAllah. Pantai ini sepinya bikin berasa pantai pribadi. Setiap kesini, hampir gak pernah ketemu orang lain.

Pantai Mata ie - Pulau Nasi
Pantai Mata ie - Pulau Nasi

Di trip kemarin, kita menikmati senja sampai matahari terbenam di sini. Sebagian teman-teman asik mengabadikan momen di setiap sudut pantai, trus masang hammock dan tiduran sambil menikmati suasana pantai pribadi ini. Saya dan beberapa lainnya memilih untuk duduk di bebatuan dekat pantai. Dari A sampai Z semua terbahas. Sayang kalian banyak-banyak pokoknya, kalian yang bisa diajak ngomong macam-macam, yang kalau salah di tempat langsung di"kecam" haha. Tanpa sadar, dua jam habis begitu aja dengan duduk dan ngobrol. Itupun berhenti karena sibuk ngarahin kamera ke arah matahari terbenam yang perlahan, anggun sekali, sampai akhirnya tak terlihat sama sekali lagi. 

Pantai Nipah, target tempat kita menginap di beberapa trip terakhir  selalu jadi destinasi terakhir kita. Selalu jadi lokasi yang paling lama kita habiskan waktu, sambil nyebur.

pantai nipah pulau nasi
Pantai Nipah, Pulau Nasi.
Di pantai nipah, ada dermaga kecil yang seolah jadi hiasan tersendiri di pantai ini. Sama kayak mata ie juga, pantai ini mashaAllah sepinya, bikin bahagia kali pokoknya.

Di sini, begitu nyampe kita langsung masang hammock, maksudnya buat leyeh-leyeh, asiknya sambil dengar musik atau sambil baca. Faktanya, sebagian besar waktu habis di dalam air, trus kalau udah cukup capek sampe tangan udah cukup pucat, sampe diingatin kalau sejam kemudian udah harus balik ke dermaga Deudap, barulah satu persatu balik arah, ganti dengan baju bersih trus leyeh-leyeh di hammock yang udah duluan di pasang, atau duduk-duduk sambiol ngobrol santai dengan yang lain.


Ah kangen pantai kan jadinya.

Ditengah kondisi serba terbatas kayak gini, #dirumah aja lah solusinya. Sekangen-kangennya sama pantai.. nanti ya, selesai semua masalah Covid-19 ini




1 comment:

  1. Wah, jadi kangen pantai juga..
    Selain ngopi, di sana juga bisa jajan mi santri yang nggak pake direbus.

    ReplyDelete