Monday, July 20, 2020

4 Years and Counting ..

MashaAllah, ternyata udah 4 tahun saya sah jadi dosen di sebuah PTN di Aceh ini. Dari sesuatu yang dihindari, hingga kemudian memantapkan diri untuk berkecimpung langsung di dunia akademik ini.

Sekitar tahun 2016, ketika pertama kali bergabung di kampus, saya sempat menuliskan kondisi saat itu. Semuanya terjadi karena omongan saya diaminkan malaikat, kata saya waktu itu. Bukan tahun yang mudah, masih shock jadi dosen, harus bersikap dewasa nan bijak dengan mahasiswa, harus sangat hormat dengan dosen-dosen lain. Rasanya kok ya gak bisa casual aja hubungannya.

Setahun kemudian, pikiran saya berubah lagi, gak mampu di jurusan TI ini, saya pengen pindah ke jurusan bahasa inggris. Beloknya memang jauh sodara-sodara. Itu juga karena pernah 1 semester ditawarkan mata kuliah di prodi itu. Jatuh cinta rasanya sama prodi sebelah, karena kuliahnya banyak ngobrolnya. Padahal bisa jadi, cuma di satu mata kuliah itu aja sayanya nyaman mengajar, mungkin cuma kebetulan di semester itu, mood saya happy terus, mahasiswanya juga seru-seru. Di tahun ini, selain pengen pindah prodi, sempat juga ditanyain dan disarankan untuk ikut test CPNS tahun itu. Jawaban saya sangat tegas, NO !



class in hall

Itu tahun 2017, beda ceritanya di tahu 2018. Pertanyaan soal CPNS datang lagi. Dari NO berubah ke..boleh lah ya dicoba. Mendadak galau karena ada keinginan terselubung lainnya kalau rejeki dan lulus PNS; banyaknya beasiswa yang dikhususukan bagi dosen :D . Akhirnya, dengan berbagai drama, lupa akun BKN, lupa submit berkas padahal di saat yang sama sedang seru-seruan di Bromo, sampai di hari kelulusan sempat berfikir untuk menolak dan cabut dari kampus, hati berkata lain, hayuk jadi dosen.



Diskusi santai di halaman fakultas
Diskusi santai di halaman fakultas


Kalau di tahun 2016 itu reaksi abang dan kakak mempertanyakan keputusan jadi dosen, di 2018 si kakak malah ketawa ngakak.
"Udah gak ada alasan buat kemana-mana lagi ya, netap di aceh kamunya', kata si kakak ketika saya mengabarkan kelulusan.

Well, yeah. Here I am, now.

Di tengah-tengah kondisi pandemic dengan kelas daringnya, di saat mood lagi naik turunnya (sabee :p ), diingatkan sama beberapa teman yang sama-sama melewati fase 4 tahun ini.

Udah betah? masih akan terus beradaptasi, untuk bisa betah di sini
Kuliah lagi? maunya gitu, apa daya, cita-cita mau kemana masih blur, belum kelihatan hilalnya kalau kata orang-orang

Nikmati aja? Hooh, semoga gak kelewat menikmati sampe lupa masih harus upgrade ilmu hehe

Enjoy your choice


Bismillah..
smoga niat mengabdi di sini gak berbelok ke yang tidak-tidak. Walaupun awalnya karena mikirin beasiswa, tapi belakangan udah diluruskan kok, beramal :D
Continue reading 4 Years and Counting ..

Sunday, July 19, 2020

Hari ini, aku rindu bapak, lagi

Rindu bapak, seolah jadi kalimat tabu. Mengungkapkan perasaan seperti ini bukanlah sesuatu yang normal di rumah, di keluarga besar. Tapi belakangan aku mencoba mengganti yang dianggap tabu menjadi sesuatu yang pada hakikatnya adalah hal yang biasa. Aku mengakui rasa dengan kata, yang diucapkan secara lugas, bahwa aku rindu sosok yang tak pernah kukenal dan tak ada kenangan tentangnya. Ungkapan ini seolah menjadi salah satu pengobat rasa.



Sejak menikah, frekuensi rindu ini semakin menjadi-jadi. Bisa jadi karena setahun terakhir aku tidak ziarah ke kuburan bapak. Di saat rindu semakin menjadi-jadi, covid menghampiri. Lagi, bepergian keluar kota masih tidak memungkinkan. Beberapa kali merencanakan pulang, selalu saja ada halangan yang tak bisa dielakkan. Rindu bertemu, tapi kondisi tak memungkinkan.

Doa untuknya? selalu.

Di awal menikah, suami cukup bingung menghadapi diri ini yang semenit-menit rindu, setiap saat bisa berubah mood karena rindu. Bahkan ketika ayah mertua datang, aku yang masih beradaptasi dengan tiba-tiba punya ayah, mendadak moody. Jika bapak ada, aku akan bagaimana, jika bapak mengatakan hal A, aku akan merepson seperti apa.Alhamdulillah, bersyukur punya suami yang cukup bisa menerima kondisi rindu ini.

Awalnya cuma sebagai pendengar yang baik, hingga perlahan suami mulai menanyakan, bagaimana mungkin aku rindu seseorang yang tentangnya tak ada yang kuketahui, yang kenangan tentangnya bahkan tak ada sama sekali. Sama, seandainya aku tau, aku bisa langsung menjawab.

Bapak, akuu rindu, cuma pengen ngobrol sama bapak, cuma pengen duduk di samping kuburan bapak, trus cerita macan-macam. Udah.

Aku rindu, selalu.





Continue reading Hari ini, aku rindu bapak, lagi

Sunday, June 21, 2020

Akses Kesehatan di Masa Pandemic

Beberapa hari terakhir, berita terkait Covid-19 di Aceh diisi dengan peningkatan jumlah pasien yang positif. Deg-degan? banget. Apalagi terus terang sejak beberapa waktu lalu, suka horor kalau keluar rumah kelamaan, ntah itu ke pasar, ke warung kopi atau ke dokter yang belakangan ini memang kondisinya harus check-up beberapa kali dalam sebulan. Apalagi masyarakat udah mulai ninggalin masker, atau sekedar dipake tapi gak nutupi hidung dan mulut. Sekedar ada. 

Satu sisi, berita-berita negatif ini memang gak baik buat kesehatan mental kita. Rasa khawatir semakin menjadi-jadi, ketakutan yang gak jelas juga. Tapi di sisi lain, justru ini seperti alarm untuk masyarakat, kalau sebenarnya Aceh itu gak bebas dari ancaman Covid-19 itu sendiri. Dan itu nyata adanya. 

Di rumah aja tetap jadi salah satu cara terbaik mengurangi penyebaran virus ini.

Bepergian keluar daerah? Tetap bukan prioritas, kecuali memang ada keperluan mendadak dan mendesak, mau gak mau ya tetap bepergian. Jujur aja, saya beberapa kali ngajakin suami ke Sabang sekedar buat menenangkan diri, kangen laut dan berbagai alasan lainnya. Alhamdulillah godaannya gak ngaruh di suami, dianya malah keukeuh untuk gak kemana-mana dulu sampai kondisi benar-benar stabil lagi. Siapa yang bisa jamin kalau selama dalam perjalanan kita aman-aman saja, atau malah bisa jadi kita yang ikut membawa si virus ke pulau seberang. 

                             


Seorang teman dekat pernah cerita gimana ribetnya dia waktu mau balik ke Eropa dengan transit di Jakarta terlebih dahulu. Segala surat-surat persyaratan untuk ijin terbang itu seabreg banyaknya. Mungkin, kalau di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dll pengurusan surat ini gak seribet di tempat kami tinggal. Dengan ilmu dan koneksi terbatas, segala pengurusan jadinya banyak terhambat. Belum lagi misalnya yang dipahami sama yang terjadi di lapangan berbeda, bingung lagi jadinya kan. 

Contohnya soal rapid test. 

Dari awal, si teman udah mulai cari-cari tau soal test ini di beberapa media. Walaupun pada saat itu sudah ada beberap pasien positif, di beberapa tempat umum juga sudah pernah dilaksanakan rapid test, tetap aja informasi terkait test ini masih ngambang, gak jelas dimana sebenarnya.  Mungkin lain ceritanya kalau punya keberanian untuk langsung ke rumah sakit dan cari tau langsung ke pusat layanan kesehatan. Si teman terlalu takut untuk kesana. Well, serem juga sih ya ngebayanginnya. Tapi urgent kan. 

Jumlah Terpapar per 21 Juni 2020 | Sumber


Belum lagi seorang teman lainnya yang mendadak harus ke daerah zona merah, mengantar sang ponakan yang udah mulai masuk sekolah. Menjelang pulang, dia ngabari beberapa teman sekaligus menanyakan soal rapid test. Jawaban paling sering didapat ya. ' google aja coba' . Alias cari tau sendiri, infonya banyak di internet. Kebayang ya, info krusial seperti ini bertebaran di media, tapi bukan dari pakarnya. Saya yang belakangan terus berurusan dengan dunia kesehatan akhirnya menyarankan untuk cari informasinya di Halodoc. Karena udah melihat seperti apa aplikasi ini, dan sudah merasakan manfaatnya, beranilah saya untuk menyarankan si teman mengecek langsung di sana.

Btw, halodoc ini adalah aplikasi yang memungkinkan masyarakat untuk dapat informasi seputar kesehatan secara daring. Misalnya kita butuh segera konsul dengan pakar kesehatan, maka Halodoc memudahkan proses ini. Gak cuma sekedar konsul aja, aplikasi ini terhubung dengan Apotek  via aplikasi ApotekAntar dan lab juga. Jadinya masyarakat bisa konsul sekaligus dibantu sepenuhnya. Dengan kondisi saat ini yang serba tidak pasti serta ancaman Covid-19, aplikasi Halodoc benar-benar membantu kan ya. 

Informasi Rapid Test Via Halodoc | Sumber  Halodoc

Info soal covid-19 juga cukup lengkap disediakan di sini, sampai informasi tempat rapid test terdekat juga ada. Lengkap dengan alamat dan biaya test yang harus dikeluarkan untuk bisa ikut testnya, tergantung jenis test yang diinginkan.  Bisa dibilang app ini sebagai One Stop App, satu aplikasi (kesehatan) yang semuanya bisa dilakukan via daring. 

Di masa yang serba gak pasti ini, serba was-was untuk beraktifitas di luar, informasi online tentulah jadi pilihan. Dari mulai transportasi, belanja online yang meliputi belanja kebutuhan sehari-hari, sampai informasi kesehatan. Tentunya sebagai masyarakat yang cerdas, tentu harus cerdas pula dalam mencari informasi, yang valid dan tentunya terpercaya. 

Masyarakat yang cerdas juga senantiasa mengikuti protokol kesehatan kan, kalau ga terlalu mendesak, di rumah saja lah. Semoga dengan segala usaha ini, corona segera pergi dari muka bumi. 

Dear bumi, cepat baikan ya















x
Continue reading Akses Kesehatan di Masa Pandemic

Wednesday, May 13, 2020

,

Sketching as Stress-reliever

Setahun terakhir, saya mulai membiasakan diri belajar sketsa. Awalnya semi dipaksa sama teman pas kita lagi hangout di coffee festival. Dari gak paham dari mana mulai sketsa, dari yang bingung pake drawingpen apa pensil tapi tetap gak paham makenya gimana, sampe akhirnya memberanikan diri posting di ig biar kelihatan progess nya, biar dapat masukan juga dari orang yang lebih paham.



Selama WFH, saking ribet tapi bikin suntuknya kerja di rumah, balik-balik ke sketsa lagi. Kali ini, ngikutin salah satu akun sketsa paling kece di ig dan youtube. Kebantu sekali ketika gak paham harus narik garis kemana, eh si artistnya buat step-by-step cara sketsa sesuatu. Ah. bahagia jadinya ketika satu sketsa selesai dalam waktu 10-15 menit dengan hasil maksimal menurut saya.



Eh ga taunya, selama menghabiskan waktu dengan sketsa, sebagain beban pikiran (yang seolah banyak gitu hehe) hilang sebagian, perlahan-lahan. To the point tiap malam kalau gak bisa tidur buka buku sketsa 10-15 menit aja, gerak-gerakin tangan seolah pinter gitu sketsanya, trus baru bisa tidur.

Awalnya cuma bisa sketsa yang bentuknya lurus-lurus aja. Pelan-pelan nyoba yang berbeda. Awalanya (dan masih sebenarnya) setiap sketsa diwarnai dengan kopi instant, belakangan makin suka dengan sketsa yang hanya hitam putih, digambar dan diwarnai hanya dengan drawing pen.

Dua foto terakhir jadi sektsa terfavorit pada masanya. Rasanya lucu aja kalau serba japanese gitu.  Seru aja sketsa sesuatu kayak di manga hehe. Alasannya sederhana sekali ya kan :D 




Kalau kalian, yang bisa dijadiin sebagai stress reliever kira-kira apa?
Feel free to share yak :)

Continue reading Sketching as Stress-reliever

Thursday, April 9, 2020

Dirumah Aja, No Problem

Hampir sebulan sudah, saya dan suami udah berdiam di rumah aja. Walaupun jujur, selalu kegatelan pengen keluar rumah, walaupun hanya 10 menit aja keliling-keliling. Udah gitu aja. Setidaknya bisa menghilangkan sumpek dengan kerjaan kampus (yang bejibun mashaAllah banyaknya), belum lagi ditambah dengan kerjaan rumah tangga yang alhamdulillah gak pernh berkurang banyaknya.

At this point, satu yang harus saya akui, saya salut dengan ibu-ibu rumah tangga yang setiap harinya bergelut dengan urusan rumah tangga. Mulai bangun tidur sampe tidur malamnya, kegiatannya gak pernah berhenti. Walaupun baru itungan bulan berumah tangga, rasanya kok kerjaan rumah tangga itu di luar akal sehat, kelewat banyak dan gak ada habisnya. Di sini saya bersyukur sekalian ngantor juga. Walaupu kerjaan ngantor bejibun, saya punya alasan untuk menunda mengerjakan pekerjaan rumah tangga. 

Selama hampir sebulan ini, hidup saya hanya seputaran masak, buat cemilan sore, ngajar online, bimbingan skripsi/penelitian mahasiswa, laundry. Siklusnya gitu terus. Bersyukur, tetap, 'libur' kali ini memungkinkan saya untuk melakukan hal-hal yang susah sekali saya kerjakan karena alasan gak sempat. 

Nah. di postingan ini, saya ingin berbagi beberapa kegiatan yang saya lakukan, dan tentunya, kalian-kalian di luar sana juga bisa ngelakuin yang serupa.

1. Masak
Sejak menikah, tiap hari saya usahakan tetap masak. Tapi sejak "libur', frekuensi masaknya jadi bertambah, begitu juga dengan variasinya. 

Masak sambel terasi biasanya cuma pas weekend, karena pengennya lengkap dengan ayam geprek plus lalapan. Eh sekarang bisa kapan aja, selama bahan tersedia. Masak rendang bukanlah kerjaan harian, berhubung kondisi seperti ini, nyetok makanan jadi juga bisa dijadiin solusi. Selain mengurangi frekuensi masak, juga mengurangi frekuensi ke pasar. 

Homemade Churros
Homemade Churros 

Saat pengen mie bakso. harus buat sendiri. Pengen jajan cilok, langsung googling resep yang paling mudah diikuti dan terbukti keberhasilannya. Kalau biasanya pas ngopi di tempat langganan bisa sekalian ngemil churros, kali ini harus buat sendiri. Eh ternyata buatnya gak sulit. Modalnya juga gak banyak

Berhubung di halaman depan mangga lagi berbuah banyak, kadang suka iseng buat rujak mangga. Dulunya, kalau mamak buat saya termasuk yang gak akan nyentuh rujak mangga, eh sekarang malah rajin buat dan dibagi-bagi ke teman-teman :D 

Rujak Mangga
Rujak Mangga

2. Berkebun
Dulu, jauh sebelum akhirnya menikah, saya punya cita-cita suatu hari akan mulai berkebun. Tanamannya yang kira-kira sering dipake buat masak. Misalnya kunyit, jahe, sereh, daun pandan, rawit, belimbing wuluh dan temurui (serupa dengan daun kari). 

Berkebun ala-ala
Berkebun ala-ala


Alhamdulillah jadi berkebun juga. Sebagian tanaman sudah ada di rumah suami, sisanya saya tambahkan. Bela-belain keluar buat beli tanah dan ambil bibit. 

Walaupun masih kecil-kecil, rasanya bahagia sekali cita-cita udah mulai terealisasi pelan-pelan

3. Sketsa
Nah ini udah hampir setahun ditinggalin. Alasannya ya sama kayak masak, capek, gak sempat. Alasan yaa :D . 

Membuat sketsa bisa dijadikan solusi ketika tangan terlalu lelah mengetik bahan kuliah, mata terlalu lelah melihat gadget, atau terlalu suntuk untuk harus menghabiskan waktu dengan nonton drama. Sketsa jadi penyelamat yang menenangkan sekali ketika dikerjakan. 

kopi sketsa
Sektsa Kopi

Karena saya bukan orang yang kreatif juga, saya mulai belajar dari 0 lagi. Mulai liat sketsa yang mneurut saya menarik. Baru kemudian lanjut dengan coloring (yang simple banget) dengn kopi. Lumayan. Alhamdulillah bikin tenang dan bikin bahagia.

4. Membaca
Buku-buku yang masih di dalam kotak setelah pindahan beberapa bulan lalu mulai dikeluarkan satu persatu. Ini waktunya memanjakan diri dengan membaca. Otak juga mulai susah diajak mikir, bacaannya selalu berita yang menurut saya lebih sering bikin kita was-was. 
          

Dalgona coffee and book
Dalgona coffee and book
                                     

Nah, kalau kalian, ngapain aja selama 'libur' ini??

Continue reading Dirumah Aja, No Problem

Monday, March 30, 2020

Pulau Nasi, Nagihin!

Iseng-iseng sore ini nyoba buka blog lagi, sekedar untuk ngeliat postingan tentang pulau nasi yang pernah ditulis. Unglaublich, gak pernah ditulis! Padahal udah berkali-kali main ke pulau ini. Sekayak ngaku-ngaku suka kopi tapi gak pernah minum. Terlalu.

Dulu, pernah sekalinya ditanya sama profesor dari Jerman, nama dua pulau yang terletak di kecamatan Pulo Aceh, jawablah saya dengan bahasa jerman yang terbata-bata mencoba menerjemahkan nama kedua pulau itu ke dalam bahasa mereka, yang kalau di-english-kan juga gak kalah aneh. PAdahal ngapain juga diterjemahin ya, nama ya nama aja :D

So.. kembali ke Pulau Nasi. Ada apa dengan pulau ini?

Pulau Nasi merupakan sebuah pulau yang jaraknya sekitar 1 jam perjalanan dengan menggunakan boat, atau 2,5 jam kalau menggunakan ferry. Pulau kecil yang dikelilingi pantai-pantai nan cantik ini terlalu indah untuk dilewatkan, tapi faktanya emang terlalu sering di skip dari list tempat liburan.

Keindahan Pulau Nasi, Pulo Aceh
Keindahan Pulau Nasi, Pulo Aceh


So, what actually can we do while in the island? Secara pribadi, ada 2 hal utama yang emang selalu, senantiasa dilakukan tiap kesini. Dan terus berulang ketika ke pulau-pulau yang lainnya juga

1. Ngopi.

Duh, bagian ini kenapa susah sekali untuk dikurangi frekuensinya. Malah makin ke pulau frekuensinya bertambah beberapa kali lipat. Bikin tajub memang :D

Begitu kapal merapat di dermaga Deudap, kita akan langsung ketemu dengan beberapa warung kopi lokal. Boleh pilih salah satunya, pesan secangkir kopi - sesuai pilihan masing-masing -, lalu duduk di dekat pantai, di bawah pohon nan rindang, sambil menikmati sajian alam nan menawan. Angin yang berhembus juga bikin kita betah lama duduk di sini.

ngopi di dermaga deudap
begitu nyampe, ngopi dulu kita

Kebayang suatu hari nanti, akan bawa laptop untuk kerja di sini, sedang di hari-hari yang lain cukup bawa buku bacaan, atau malah cuma ngopi sambil mendengar deburan ombak. Ini kalau ceritanya semingguan di pulau hehe

Ngopi selanjutnya, ketika sampai di lokasi dekat kita nginap. Beberapa kali kesini kita berencana untuk menginap di resort yang dibangun pemerintah di Pantai Nipah, atau setidaknya sekedar masang hammock / tenda di pantai yang sama. Sayangnya, izin bermalam di daerah ini gak pernah dapat karena ada beberapa anggota perempuan yang ikut dalam rombongan. Jadilah tiap kesana nginapnya di Pasi Janeng. 

Nah, setiap kesini, kondisinya selalu berubah, semakin baik tentunya. Dari sebelumnya pantainya lepas banget gak ada hambatan apa-apa, sampai apik dengan penambaha infrastruktur yang sangat memudahkan nelayan melabuhkan kapal mereka. 


Ngopi di dermaga deudap
Ngopi di dermaga deudap
Di sini, ada bebrapa warung kopi lokal juga. Dari kopi instant, sampe kopi semi instant pun ada hehe. Yang pasti, harganya jauh di bawah harga di Banda Aceh sendiri. Kalau hari masih terang, kita bisa menikmati segala sajian di warung kopi sambil ngobrol dengan teman-teman seperjalanan dan juga warga lokal. Begitu malam tiba, duduklah di dekat kapal-kapal dilabuhkan. Cahaya lampu yang terbatas, tidak ada bising kendaraan, segelas kopi hangat, sedikit menengadahkan kepala, maka akan terhidang pemandangan langit yang penuh dengan bintang. Sesuatu yang terlihat sederhana tapi tidak kita dapatkan di kota yang malamnya penuh dengan cahaya.

Saya pribadi, paling menikmati di bagian memandangi bintang ini. Apalagi kalau malamnya ada agenda ke sisi lain pulau yang untuk kesananya harus naik mobil pickup. 

Karena semalaman di sini, maka sampe besok, kerjaan kita ya ngopi, ngopi, ngopi lagi. Tenang, jangan khawatir bangkrut lah, di sini aman kali soal biaya makan. Murah dan selalu bikin bahagia :D

2. Nge-pantai

Kalau mau menikmati pantai di pulau ini, bisa dengan mengelilingi pulau - yang udah pasti sejauh mata memandang bisa menikmati air laut yang dengan gradasi birunya. Cara lainnya, ya main dari satu pantai ke pantai lainnya. 

Biasanya, dan seringnya, begitu sampai di Deudap (lanjut ngopi yang durasinya kadang suka bikin lupa waktu), kita main ke pantai Ujong Kaca kachu Ada mercusuar kecil di sini, kali aja pengen ngeliat pulau dari lokasi yang agak lebih tinggi ya kan, yaa walaupun mercusuarnya goyang kalau anginnya lumayan kencang :D. Si teman yang baru pertama kali mengikhlaskan diri untuk gosong di pulau ini takjub dan gak mau pindah dari pantai ini. Terlalu cantik dan terlalu indah untuk dilewatkan katanya. Dan juga karena belum liat pantai-pantai cantik lainnya.

Salah satu sudut Ujung Kacakachu Pulau nasi
Salah satu sudut Ujung Kacakachu

Ada lagi pantai Mata ie, kalau cahaya matahari lagi bagus-bagusnya, warna air laut juga gak mau kalah, cantiknya mashaAllah. Pantai ini sepinya bikin berasa pantai pribadi. Setiap kesini, hampir gak pernah ketemu orang lain.

Pantai Mata ie - Pulau Nasi
Pantai Mata ie - Pulau Nasi

Di trip kemarin, kita menikmati senja sampai matahari terbenam di sini. Sebagian teman-teman asik mengabadikan momen di setiap sudut pantai, trus masang hammock dan tiduran sambil menikmati suasana pantai pribadi ini. Saya dan beberapa lainnya memilih untuk duduk di bebatuan dekat pantai. Dari A sampai Z semua terbahas. Sayang kalian banyak-banyak pokoknya, kalian yang bisa diajak ngomong macam-macam, yang kalau salah di tempat langsung di"kecam" haha. Tanpa sadar, dua jam habis begitu aja dengan duduk dan ngobrol. Itupun berhenti karena sibuk ngarahin kamera ke arah matahari terbenam yang perlahan, anggun sekali, sampai akhirnya tak terlihat sama sekali lagi. 

Pantai Nipah, target tempat kita menginap di beberapa trip terakhir  selalu jadi destinasi terakhir kita. Selalu jadi lokasi yang paling lama kita habiskan waktu, sambil nyebur.

pantai nipah pulau nasi
Pantai Nipah, Pulau Nasi.
Di pantai nipah, ada dermaga kecil yang seolah jadi hiasan tersendiri di pantai ini. Sama kayak mata ie juga, pantai ini mashaAllah sepinya, bikin bahagia kali pokoknya.

Di sini, begitu nyampe kita langsung masang hammock, maksudnya buat leyeh-leyeh, asiknya sambil dengar musik atau sambil baca. Faktanya, sebagian besar waktu habis di dalam air, trus kalau udah cukup capek sampe tangan udah cukup pucat, sampe diingatin kalau sejam kemudian udah harus balik ke dermaga Deudap, barulah satu persatu balik arah, ganti dengan baju bersih trus leyeh-leyeh di hammock yang udah duluan di pasang, atau duduk-duduk sambiol ngobrol santai dengan yang lain.


Ah kangen pantai kan jadinya.

Ditengah kondisi serba terbatas kayak gini, #dirumah aja lah solusinya. Sekangen-kangennya sama pantai.. nanti ya, selesai semua masalah Covid-19 ini




Continue reading Pulau Nasi, Nagihin!

Saturday, February 1, 2020

,

November, Akhir Untuk Sebuah Awal

Putusan akhir november diambil dengan pertimbangan yang terbilang tidak ada. Tiba-tiba saja tanggal di pertengahan bulan ini dipilih jadi tanggal bersatunya dua keluarga.

Terlalu lama ketika menunggu, ternyata terlalu cepat ketika melihat kesiapan yang semakin mendekati hari semakin banyak yang belum tercapai. Drama bermunculan, layaknya segala jenis permasalahan yang hadir ke permukaan semakin mendekati hari sakral itu.

pink and white, kompakan dengan dinding kampus
Pink and White, Kompakan dengan dinding kampus haha


Undangan disebar, online tentunya. Banjirnya ucapan selamat dan doa, disertai dengan kalimat-kalimat mempertanyakan. Adakah siapapun di luar sana, yang mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya tanpa mempertimbangkan, walaupun sebentar saja? pasti dipikirkan sedemikian rupa. Seringnya, kita terlupa dengan hal-hal baik di sekitar kita, ketika sedikit saja yang buruk menghampiri, yang baik-baik segera terlupakan. Istighfar, shalawat, tak boleh terlewatkan.

D-Day

Setelah sehari sebelumnya saya kelewat senang ketika kedua tangan dihias merahnya henna yang memakan waktu cukup singkat dibanding dengan yang seringnya saya liat, maka di hari ini saya harus bangun pagi-pagi sekali dan mempersiapkan wajah ini untuk dipoles sedemikian rupa. Duh, cobaan sangat berat. Makeup, baju serba soft pink dihias sedikit supaya tidak terlalu membosankan. Deg-degan? banget. Deg-degan bercampur kesal ketika keluarga ngaret sedangkan keluarga mempelai pria sudah duluan standby di mesjid. Duh

Prosesi akad berjalan cepat, itungan menit status pun berubah, sah Alhamdulillah.

Ijab
Ijab. 


Kita berdua? Kayak teman yang tadinya dipisahin tempat duduk trus barengan lagi :D . Ajaib memang dua bocah yang menikah ini.

Sudah selayaknya setelah akad ya foto dengan keluarga - kerabat yang jumlahnya alhamdulillah ramai sekali, trus pasti ada juga semacam postwed. Kita juga sama. Tapii... saya yang paling gak suka difoto ini terus-terusan ngeluh dan minta fotonya dicukupkan. Gak mampu anak mudi ini :D. Alhasil, foto kita terbatas sekali haha.

berswafoto dengan kakak dan ponakan
Dengan kakak dan ponakan, swafoto dulu sekejap


Alhamdulillah for every single thing

Setelah sah, maka drama-drama rumah tangga tentunya bermunculan satu-persatu. Tapi tetap bersyukur, apapun kondisinya, semoga Allah mudahkan segalanya.

Terima kasih untuk semua yang udah datang, mendoakan, maupun yang berhalangan dan mengirimkan doa. Smoga Allah mengijabahnya.



*ditulis di hari ke 76 pernikahan hehe





Continue reading November, Akhir Untuk Sebuah Awal