Putusan, Soalan Masa Depan

October 20, 2019

What if. 

Jawaban yang kurang meyakinkan atas pertanyaan yang berkaitan dengan masa depan. What if, jawab saya malam itu. Bukan yes or no, tapi sebuah jawaban singkat bersifat conditional. Jawaban yang muncul setelah berhari-hari kebingungan, berminggu-minggu mencari titik terang, berbulan-bulan mencoba lari dari apapun yang menghampiri. 

Setelah pertimbangan nan panjang, tapi dengan jawaban yang masih menggantung. Masih menunggu kemungkinan-kemungkinan jawaban darinya yang mungkin dapat kembali mengubah jawaban finalku. 

Soalan masa depan tentu tidak dapat dengan mudah diputuskan, semudah membalikkan telapak tangan. Mungkin ada di luar sana yang seperti itu, diberikan kemudahan oleh sang Maha Besar, untuk memilih, memilah lalu mengambil keputusan besar. Ada juga yang seperti aku misalnya, yang butuh waktu lama, butuh mendengar pendapat dan masukan banyak orang tentangnya. 

Pendapat/masukan ini, benar-benar harus disaring. Butuh energi ekstra untuk dapat menentukan  mana yang valid dan dapat diterima, masukan mana yang kemudian bercampur dengan soalan pribadi si pemberi masukan, yang mana pula yang valid tapi tidak terpengaruh dengan keinginan diri yang memang maunya yang seperti itulah yang didapatkan. 


Yang tidak boleh terlewatkan ataupun berkurang frekuensinya, adalah mencari kebenaran dan kecondongan hati dalam diskusi panjang di tengah malam dengan yang Maha membolak-balikkan hati. Semakin Ia didekati, semakin ringan hati ini melihat segala hal yang berdatangan, segala hal yang menghampiri, seberat apapun ianya, seolah hati dengan mudah menyelesaikannya. Alhamdulillah. 

Pemikiran nan panjang. 
Ketika satu persatu ketakutan hilang, ketika satu persatu pertanyaan sudah memunculkan jawaban, ketika semua yang dicari sudah ditemukan, tiada lagi alasan untuk mempertanyakan. 

Orang-orang di sekitar kami paham benar bagaimana kami berproses setahun terakhir. Dari  yang ketakutan dengan kehadirannya sebagai sosok yang berbeda, bukan seseorang yang ku kenal dengan kebiasaannya bercanda, hingga menjadi seseorang yang mengharapkan hubungan yang lebih serius. Bagaimana aku meminta teman-teman untuk menjauhkan kami berdua, sejauh-jauhnya. Hingga di suatu sore, ia hadir dengan sesuatu yang berbeda. Beberapa syarat yang selama ini  kurahasiakan, justru semuanya dipenuhi sore itu. 


Bingung lah anak mudi ini. 

Malam itu, kumulakan dengan bismillah, lalu menjawabnya dengan sebuah pesan yang sengaja kutuliskan menjelang tengah malam. Dengan harapan baru esok harinya dibalasnya. Takdir Tuhan, ia masih terjaga, menjawab pesanku, yang kemudian berlanjut hingga beberapa percakapan panjang di waktu-waktu berikutnya. 

Minggu-minggu berlalu, hampir setiap minggunya ada putusan yang harus diambil, ada persetujuan yang ditunggu dengan harap-harap cemas dengan berakhir dengan lega tak terkira, syukur tiada akhir. Pertemuan dilanjutkan perkenalan hingga proses lebih sakral dilaksanakan dalam waktu cepat, diluar perencanaan dan perkiraan selama ini.

November, begitu keputusannya. 

Bismillah, ucap kami lagi. Bismillah, semoga Allah mudahkan semuanya. Semoga Allah ridhai hingga akhir masa. Semoga berkekalan hingga ke Syurganya. 

You Might Also Like

0 comments