My Turning Point

May 14, 2019

Nulis seolah jadi beban yang berusaha diabaikan beberapa bulan terakhir. Kesibukan dunia yang terlalu berlebihan dan tidak beraturan, benar-benar menyita waktu. 24 jam sehari benar-benar jauh dari kata cukup.  Nulis itu, hanya satu dari sebagian yang saya coba abaikan. Padahal dari kapan tau saya percaya menulis itu salah satu metode healing yang paling ampuh. Tetap aja, menulis diabaikan untuk sekian lama. 

Kerjaan yang tiada habisnya. 
Kerjaan kampus dibawa pulang ke rumah, jadilah weekend juga diisi dengan kerjaan kantoran yang gak tercover di hari-hari kerja. Sebenarnya hal ini bisa dihindari kalau jumlah jam ngajar gak membludak banyaknya. Nah, bagian ini juga gak bisa dielakkan karena jumlah tenaga pengajar yang sangat terbatas dan tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang ada. Lelah bahkan untuk mendeskripsikannya.  Ngajar, projek, konsul penelitian mahasiswa - termasuk skripsi dan penulisan jurnal ilmiah , buat lapoan ini itu, harus buat pengabdian masyarakat, belum lagi ada tuntutan penelitian dosen - yang pada akhirnya tidak dikerjakan juga huhuhu

Memang mudah sekali menyalahkan sesuatu selain diri sendiri. Shame on me

Lingkaran pertemanan yang cukup demanding.
Maafkan, saya gak nyalahin mereka juga, lah memang dari kapan tau kita emang selalu bareng. Dari mulai jam pulang kerja sampe setelah isya. My other life, kira-kira gitu. 

too much work too little time
Sumber : here

Dari awal kepulangan beberapa tahun lalu, mereka lah orang-orang yang ketika itu saya kenalan kemudian selalu ada untuk saya, bareng mereka selalu menyenangkan. Pokoknya tiap ketemu walaupun semua sibuk dengan dunia masing-masing, beban kerja seolah gak ada sama sekali. And I needed that. 

Ketika akhirnya sampai di titik jenuh sekali,  ketika otak gak bisa ditambahkan beban baru, ketika space di otak udah over, luber kemana-mana, rasanya ingatnya aja bikin mual saking gak tau harus kemana buangin sebagian isi kepala, kerjaan gak ada yang beres, hubungan sosial semakin gak sehat, saya diingatkan seberapa sia-sianya hidup saya yang seolah semakin menjauh dari Tuhan. Ah wait,  jauh dari Tuhan di sini maksudnya ketika ibadah wajib - dalam hal ini shalat - justru dikerjakan diantara banyaknya kesibukan, ketika ada waktu kosong, dan gak jarang jadi agak telat. And that is a big mistake

Lupa saya pastinya gimana, yang pasti dalam waktu singkat, saya dipertemukan dengan banyak orang yang kembali mengingatkan esensi ibadah, kembali diingatkan untuk kembali pada Allah. Ada masalah, curhat sama Allah. Ada cerita bahagia, cerita sama Allah. Segalanya, ngobrol sama Allah. Punya banyak harapan tapi gak mendekatkan diri sama yang ngasih rejeki, sama aja bohong. Sama aja kayak pengen dapat ranking 1 tapi gak belajar dan pengennya dapat ilham pas jawab soal-soal ujian. Mustahil. 

Cukup drastis waktu itu, saya memutuskan untuk berhenti dari sebagian besar kegiatan keduniawian saya. Duh bahasanya ya. Cuma soalan ngampus yang masih dipertahankan. Well, yang ini masuk tanggung jawab dan juga bekal di akhirat, gak mungkin juga ditinggalin kan hehe. Sisanya, kebiasan-kebiasaan lama, saya hilangkan hampir 90% nya. Hubungan sosial tiak mungkin 100% dihapuskan dari kehidupan saya, hanya saya sudah ada prioritas waktunya, frekuensinya jauh lebih sedikit dari sebelum-sebelumnya. Ngopi aja yang dulu bisa tiap malam berubah jadi cuma tiap kamis setelah kelas GRE dengan beberapa teman, sebelum maghrib sudah harus bubar. Tidur malam harus sebelum jam 12 (diusahakan sangat) supaya dapat ibadah malam dan subuhnya gak kebablasan. Artinya gak boleh main-main gak jelas setelah isya. 

Aturan demi aturan saya buat untuk diri saya sendiri. 

Intinya, kembali ke Allah, and you will reach the point where  you feel better when you talk to Him, you feel empty when you skip a day without communicating with Him. 

back to Allah
Source : here


Ketika hati dan pikiran udah sumpek sekali, take a break. Ketika pikiran dipenuhi dugaan , was-was, take a break, istighfar, minta pertolongan sama Allah agak diberikan hati yang tenang, rasa ikhlas dalam bekerja. Ketika ditimpa musibah, berdoa semoga Allah berikan rasa sabar dan ikhlas dalam menghadapi semua, maka semuanya bisa dihadapi dengan baik. Semua dapat terselesaikan dengan baik

Untuk kamu yang merasa hidupnya gitu-gitu aja, coba introspeksi diri, coba berhenti sejenak. Pertanyakan diri, apakah segala kesibukan selama ini mendekatkan diri kita kepada pencipta, atau malah menjauhkan. Apakah kesibukan kita memberi manfaat bagi ummat, atau malah hanya untuk diri sendiri. 

Bismillah, pelan-pelan, niatkan untuk ibadah, inshaAllah Allah permudah segala urusan. 

Jadi, udah ngobrol sama Allah hari ini?







You Might Also Like

0 comments