TFS Aceh; Let's Sail To Serve - Sail 11

December 29, 2018

Sail to Serve

Sebuah moto yang awalnya tak begitu menarik perhatian. Sampai akhirnya sadar, seberapa besar makna moto di atas.

The Floating School Aceh (TFS) , sebuah wadah yang membuka mata saya, yang membuat segala rasa campur aduk sampe rasanya pengen marah sama diri sendiri. Kenapa baru tau sekarang.

Beberapa bulan yang lalu, saya berkenalan dengan seorang teman di Banda Aceh membaca, yang memperkenalkan dirinya sebagai salah satu “pekerja” di TFS Aceh. Keren, tanggapan saya waktu itu. Mereka yang mau menyeberang lautan untuk bekerja - dalam hal ini di bidang pendidikan- benar-benar orang yang hebat. Ada rasa iri, tapi saya hilangkan karena gak mungkin seorang yang kerja full time ( yang kadang weekendnya juga ngampus)  di kota ini punya kekuatan lebih (dan waktu) untuk ke pulau secara berkala.

Sail 11 TFS Aceh
Sail 11 TFS | Source : Ig TFS

Akhir november lalu, tanpa sengaja saya mampir di sosmednya TFS. Barulah saya tahu kalau kegiataan ini memungkinkan banyak orang untuk ikut serta sebagai volunteer, tanpa harus terikat secara penuh dengan lembaga. Rasanya membuncah di dada, senang tak terkira melihat kesempatan yang luar biasa ini. Saya bisa sesekali bergabung dengan mereka. Itu pikir saya. Sayangnya, di sail ke 10 itu, saya harus berangkat ke Bandung untuk konferensi. Dengan tetap saya niatkan, nanti setelah pulang, saya akan ikut kegiatan sail selanjutnya, setiap 2 mingguan.

Akhirnya bergabung

Bertemu, berbaur dan menghabiskan waktu beberapa hari orang dengan orang baru benar-benar suatu challenge. Mampu gak ya. Aneh?? Hehe.. sudah seumur ini dan udah kemana-mana bukan berarti saya mudah bergaul dengan orang baru. Dan itu jadi salah satu alasan yang bikin saya ragu untuk bergabung. Huh. Tapi kembali tergoda karen lokasi kegiatan punya banyak spot cantik, jadinya tergerak lagi hati.



Menuju Pulau Breuh
Menuju Pulau Breuh

Iya. Ketertarikan saya karena lokasinya, yang sebelumnya pernah saya kunjungi dengan teman-teman backpacker. Dan sebagai seorang yang menapat bantuan pendidikan tiada henti dari berbagai pihak, sudah sepantasnya saya ikut berkontribusi lebih untuk negeri ini. Itu harus.

See Closer

Kita, eh saya, terlalu mudah menge-judge sesuatu hanya dengan melihat luarannya saja. Ya kali Pulau breuh yang lokasinya bisa dijangkau kurang dari 3 jam dari ibukota provinsi ketinggalan pendidikannya dibanding daerah lain. Pasti banyak potensi alam di sini yang bisa dijadikan sumber penghasilan oleh penduduk lokal. Sekolah dengan bangunan yang cukup bagus, pastilah pendidikannya cukup oke juga. Dan masih banyak pemikiran-pemikiran lainnya.

Faktanya?

Rasanya pengen marah mendengar kondisi pendidikan di sini dari teman-teman yang sudah berbulan, bahkan bertahun-tahun mengabdi di kecamatan ini. Rasanya pengen teriak ke pemerintah, liat donk di sini, ini anak-anak kualitas pendidikannya masih rendah. Sedih sekali ketika anak-anak gak bisa ikutan kelasnya TFS karena harus kerja buat biaya hidup sehari-hari. Ada satu anak yang katanya harus bersihkan gurita untuk dapat beberapa puluh ribu sehari, untuk biaya hidup dia, adiknya, dan ibunya. Ada anak yang harus berangkat ke sekolah 1 jam perjalanan dari desa yang terpencil, dan katanya juga cuma dia dan adiknya yang melanjutkan sekolah hingga smp dari kampungnya. Sebagian lagi harus ke sawah ketika musim menanam tiba. Sebagian lagi harus terus membantu keluarga. They are too young, still.

Siswa-i SMP 2 Blang Situngkoh
Siswa-i SMP 2 Blang Situngkoh

Banyak yang berkoar bahwa masa depan bangsa ada di tangan pemuda ( di masa depan). Terlalu jahat rasanya kita menitipkan beban masa depan kepada mereka yang bahkan kita tidak pernah berinvestasi, berkontribusi terhadap persiapan mereka menuju masa depan yang lebih baik.

Begitu tau sail yang saya ikuti pertama kalinya ini ternyata sail terakhir yang melibatkan volunteer untuk mengajar adik-adik di SMP 2 Blang Situngkoh, sedih sekali rasanya. Baru sekalinya bisa melihat langsung, terjun langsung dengan kegiatan seperti ini, eh seakan jalannya terputus. Seakan-akan.  Gak sabar rasanya pengen balik ke Banda Aceh, cerita ke teman-teman bagaiman kondisi di sini, dan bersama-sama kembali.

Sail 11, tidak hanya bertemu dengan fasilitator dan volunteer kece, tapi belajar banyak dari anak-anak hebat dari pulau breuh.

Dalam perjalanan pulang, saya berjanji di dalam hati, akan datang dan ikut serta di Sail 12. Inshallah




You Might Also Like

2 comments

  1. Ada pekerjaan membersihkan gurita? Sudah pula pekerjaannya aneh, yang melakukan anak-anak pula.
    Anggaran pendidikan sih banyak, cuma enggak sampai menyasar ke pemberdayaan ekonomi agar anak-anak itu bisa tetap sekolah meski ortunya dari kalangan ekonomi terbatas.

    ReplyDelete
  2. Aku kira TFS itu apa mbak hhee. Pertama sih ngiranya Thanks For sharing Aceh, gitu hhe. ternyata The Floating School Aceh, hheee. Maafkeun yah mbak
    Kok miris banget mbak, siapalah hati yang tak tergerak untuk melihat keadaan pendidikan di pulau Breuh tersebut, :'(

    ReplyDelete