Soal Sudut Pandang

March 26, 2018


Pembicaraan tentang sudut pandang seperti tidak ada habisnya. Ya memang tidak mungkin dihabiskan juga, toh segala hal di dunia ini selalu ada setidaknya dua sisi yang berbeda. Seperti koin, seperti telapak tangan, seperti juga warna hitam dan putih yang saling berseberangan.

Seperti juga pembahasan lebih baik ibu rumah tangga dibandingkan dengan mereka yang sambilan bekerja, lebih baik mereka yang bekerja kantoran dibandingkan dengan kerjanya terkesan serabutan. Lebih baik bekerja dengan posisi tetap namun gaji tak seberapa mana dibandingkan dengan pekerjaan lainnya dengan gaji lebih besar. Semua ada karena sudut pandang.

point of view
Point of View | Src : tampang.com


Seperti juga, apa yang tertulis di bawah ini..

Memilih satu bidang studi di jurusan tertentu di sebuah daerah yang dianggap tak layak dijadikan pilihan untuk mendapat ilmu yang mumpuni, kemudian dianggap tidak layak (pula) bersanding dengan mereka-mereka keluaran universitas terbaik, jurusan terbaik. Ya setidaknya kalaupun diri tak baik-baik amat (ilmunya), keluaran dari kampus itu cukup layak dipertimbangkan.

Seperti benalu yang menempel di pohon mangga yang enak sekali rasanya. Seakan ingin berkata pada dunia, ia mungkin benalu, tapi ia ada di pohon mangga terbaik.

Ada pula yang berfikir sekalinya sukses, maka kejayaan itu akan selalu ada setiap namanya disebut. Seolah tanpa usaha pun, namanya akan selalu disebut sebagai seorang yang sukses, yang dihormati. Seolah lupa, roda berputar. Layaknya seorang anggota dewan yang sudah habis masa kerjanya, tapi berfikir semua orang di dunia masih berfikir dialah seseorang yang teramat dihormati. Walaupun kalau ada yang iseng cari tau apa kontribusinya pada masyarakat sekitar, mungkin hanya seperti remahan roti.

Eh tapi, apa untungnya berfikir seperti itu? Seandainya mereka pernah berfikir begitu.

Can I?
Can I? | Src: Suratpena

Di sudut dunia lainnya, ada seorang alumni negara maju yang kerap mempertanyakan mengapa kampung halamannya tak maju-maju, pemikiran masyarakatnya masih jalan di tempat. Kalaupun maju, tak terlalu berarti jadinya. Mereka di luar sana, mungkin akan ada yang setuju dengan pemikirannya yang amat maju itu, namun tak sedikit kemudian mempertanyakan, apa yang sudah ia lakukan untuk negeri ini selain membandingkan apa yang kamu lihat di luar sana.


Memalukan. Maafkan pemilihan kata yang mungkin tidak pada tempatnya.

Setiap melihat kelakuan mereka-mereka seperti yang terjabarkan di atas sana, ada baiknya melihat ke cermin sesaat, memastikan, bahwa yang tampak di cermin itu tidak melakukan yang sama.


You Might Also Like

0 comments