Karya Pidi Baiq, Nyentrik Tapi Sweet

March 04, 2018

"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu Aja". (Dilan 1990)

Kalimat di atas, adalah satu dari sekian banyak kalimat nyentrik yang ada di buku-buku karya Pidi Baiq.

Jauh sebelum cerita Dilan exists di Gramedia,  sayapun masih di negri antah berantah, sebuah buku bersampul gambar-gambar abstrak dengan judul yang cukup aneh sampai di tangan saya. Melihat sekilas, tak terfikir untuk membacanya. Akhirnya dibacapun karena tak ada bacaan berbahasa Indonesia lainnya di rak buku.

Drunken Monster, Drunken Mama, Drunken Marmut
Drunken Monster, Drunken Mama, Drunken Marmut

Eh seru, ehh malah keasikan ngakak, eh ini keren, ini siapa yang nulis??

Salah satu bagian yang terunik di Drunken Monster adalah ketika Surayah pulang telat ke rumah, sedang sang istri udah nunggu.  Bagaimana surayah mengarang kisah perkelahian dia dengan monster, sehingga terlambat pulang ke rumah. Ajaib, siapa juga yang kepikiran ngarang cerita gitu tengah malam :D

Dari satu buku berjudul Drunkern Monster itu, saya pun penasaran dengan penulisnya. Dari sanalah saya mulai mengikuti twit-twit nyentrik Surayah. Membaca cuitan beliau di socmed belakangan jadi selingan ketika menggila dengan paper dan thesis.  Kadang candaannya gak ketebak, kadang jawaban-jawaban seriusnya juga bikin senyum tersungging.

Randyoya : " Yah, kalau rindu ke dia, harus bilang apa biar keren?"
PB : " Coba bilang: Biar aku  saja yang rindu. Kamu jangan, ini berat. Kau gak akan kuat"

Familiar ya sama percakapan di atas? Padahal itu udah ada di karya Surayah yang berjudul **at-twitter** , tapi memang sih hebohnya setelah muncul film Dilan.

At-Twitter
At-Twitter

Selain buku, kalau pernah dengar lagunya surayah dengan pasukan The Panasdalam, pasti makin penasaran sama mereka. Liriknya gak kalah nyentrik dibandingkan dengan tulisan beliau.  Coba aja dengar lagu yang berjudul *Jatinangor* , cerita tentang mahasiswa/I yang kuliah di sana.

Sudah jangan ke jatinangor
Ia sudah ada yang punya
Lebih baik diam disini
Temani aa bernyanyi disini

Demi cinta engkau berikan
Buku buku dan cindera mata
Demi cinta engkau praktekan
Buku taktik menguasai wanita

Salah satu lagunya yang berjudul **rintihan kuntilanak** sempat jadi lagu wajib tiap saya dan teman-teman gitaran di taman kampus Hoffgarten. Tiap kita -anak-anak indo- ngumpul di sana, ada yang bawa guitar, pasti lagu ini jadi salah satu lagu yang dimainkan Syam, gitaris kece yang bisa ngubah lagu dari dangdut jadi rock, dari hihop jadi dangdut. Ah seenaknya dia aja.

Lagu surayah pun, sukses kita nyanyikan dalam berbagai genre musik :D

Jadi, kenapa saya akhirnya posting soal surayah dan karya-karyanya?? Karena saya iri tingkat dewa dengan teman-teman yang ikutan Meetup nasional di Bandung beberapa waktu lalu. Mereka sempat ngopi dan ngobrol dengan Surayah langsung. Hiks.. ini satu alasan kuat kenapa saya nyesal saya gak ikutan ke Bandung 2 minggu yang lalu.

Dilan, Karya Pidi Baiq
Dilan, Karya Pidi Baiq


Saking kesalnya, saya *complain* ke teman-teman di Bandung, padahal cukup sering mengunjungi kota ini, tapi gak pernah sekalipun di ajak kesana.

"Tapi kan lu tiap ketemu idola malah sembunyi di belakang kita. Ngajak kenalan aja malu, minta tanda tangan harus diwakilin, photo bareng apalagi. Ngobrol?? Ingat gak waktu kita ketemu professor favorit kamu dulu trus endingnya kamu cuma ngeliat dari jauh aja. Lah minta diajak ketemu Pidi Baiq"

:D

Yaudahlah ya Surayah, minimal cukup bikin senyum baca karya-karyanya. Ditunggu karya-karya ajaib lainnya :)

You Might Also Like

0 comments