Melihat Reverse Culture Shock Lebih Dekat

August 04, 2017

“ Sebentar tinggal luar negri, langsung Bahasa Indonesia nya belepotan “
“ Ya gak sebegitunya juga pasti, dimanapun Kita tinggal, pasti gak akan ngelupain budaya sendiri”
Itu yang ada di pikiran saya setiap kali melihat orang-orang asli Indonesia tercinta yang kembali ke tanah air trus aksen ngomongnya berubah, di setiap kalimat pasti ada terselip kata dalam bahasa asing, dan masih banyak lainnya. Belagu, mungkin itu kata yang tepat kali ya.
Tapi ternyata….
Ketika akhirnya saya keluar, tinggal dengan orang-orang dari berbagai etnis, suku, berbicara dengan bahasa dan aksen yang berbeda-beda, belum lagi minimnya komunitas Indonesia, sempurna lah sudah. Saya sangat terbata-bata untuk bisa mengkspresikan sesuatu, kewalahan menanggapi pertanyaan orang, dan masih banyak lainnya.
Reverse culture shock adalah sebuah fase dimana seseorang kaget, shock, gak bisa menerima kondisi di daerah asalnya setelah beberapa waktu tinggal di daerah yang berbeda. Contohnya Mr X yang asli Aceh, kemudian tinggal di Timbuktu, dan kemudian balik pulang ke Aceh. Si Mr.x yang udah terbiasa dengan kehidupan di Timbuktu, terkaget-kaget dengan kehidupan sebelum berangkat.
Fase ini tidak mutlak dialami oleh semua orang. Level shocknya juga bisa berbeda-beda antara yang satu dengan lainnya.  Saya pernah kesusahan berbaur dengan teman-teman, karena soal bahasa. Semua percakapan saya tanggapi dengan bahasa indonesia yang sangat terbata-bata, alhasil saya padukan dengan bahasa inggris. Karena ternyata semakin belepotan, saya selalu pake bahasa inggris kalau ngobrol. Tapi yang namanya bahasa asing, gak semua oang ngerti dan nyaman kan. Ya udah, mau g mau, saya memilih diam jadinya. 

Berdasarkan pengalaman lainnya, beberapa bentuk reverse culture shock misalnya :

  • Ngaret Vs on time
Duh, rasanya ngeselin sekali kalau ada yg buat janji tapi datangnya telat Dan tanpa konfirmasi. Pernah sekalinya saya diajak ketemuan sama bberapa teman, janjinya jam 5 tapi ngumpul semua 2.5 jam kemudian. Kalau ada yg ngajak perang pasti kalah hari itu. Kebiasaan selama tinggal diluar, kalau gak on-time pasti ketinggalan bus /tram, kalau g on-time professor pasti marah dan g akan mau bimbing, ribet kan jadinya.
image
Sumber : http://bit.ly/2tylrfd 
Sebenarnya gak mesti harus sampe tinggal di luar negri supaya bisa terbiasa dengan on-time kan ya? Kembali ke pribadi masing-masing aja. Suka gak harus nunggu orang lama-lama? Suka gak kalau gaji bulanan datangnya ntah kapan?? Gak kaann.. gak enak kan rasanya “digantungin" gitu. Makanya jangan :)
  • Antrian dan menerobos lampu merah
Saya menganggap kedua aktifitas itu sebagai latihan kesabaran. Antrilah, ada orang yang duluan datang - tentunya punya hak untuk duluan bayar di kasir misalnya, atau ngambil barang, dan masih banyak lainnya.
Lampu Merah?? Itu soal menjaga ketertiban di jalanan. Ketika kita menerobos, bukan hanya nyawa Kita yang jadi taruhan, orang lain juga. Kecuali kebelet yang udah g mungkin lagi ditahan kali ya 😁
  • Sapa dan Senyum
Pengalaman ketika tinggal di Jerman dulu, kalao di apartment yang mayoritas gak saling kenal Kita masih saling nyapa walaupun sekedar Hi, Hello. Bahkan kalau papasan dengan Muslimah lain, biasanya langsung dikasih salam. Mungkin karena di kita mayoritas Muslim, rasanya akan “capek” ngucapin salam berkali-kali. Mungkin yaa.. dan ini juga terjadi pas lagi main ke Turki. Padahal kalau ketemu Muslimah Turki di negara lain, akan tetap ngucapin salam.
Awal-awal kepulangan dulu, saya paling gak bisa tahan dengan perbedaan budaya yang terlalu mencolok ini, rasanya pengen kabur ke negara lain. Faktanya, saya beneran kabur setelah 1 tahun balik ke Aceh hehe.
Tapi bukan berarti gak bisa diatasi, bahkan ada pelatihan atau workshop khusus sebelum keberangkatan. Itung-itung buat jaga-jaga pas pulang balik ke negara asal.
Yang paling penting adalah don't judge the book by it's cover . Kita g tau kenapa mereka sampe mengalami yang namanya reverse culture shock. Setiap orang memiliki kehidupan yang berbeda satu sama lain.. so.. kalau ada orang-orang terdekat yang mengalami ini, mungkin... we need to accept them, or leave them.. mungkin
What do you think?


You Might Also Like

2 comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. bukan cuma yang dari luar negeri pulang ke negara asalnya saja, yang lama tinggal di ibu kota provinsi pun kalau pulang ke kampung halaman suka gitu juga, meski beda gaya dan polanya :-D

    ReplyDelete