Pilihan Sulit itu bernama Sarajevo

July 21, 2017

" Itu lah, kelamaan di Sarajevo" , " Kok kesana pula kuliah, macam gak ada tempat lain aja"

Itu,.. cuma 2 pernyataan dari sekian banyak yang saya dengar, dari 2005 hingga sekarang.

Dari awal saya memutuskan untuk ke Sarajevo sampe sekarang, pertanyaan dan pernyataan serupa gak pernah hilang. Dulu, saya selalu malu kalau ada nyebut Sarajevo, Bosnia. Kenapa? karena itu bukan kota terkenal tujuan studi, bukan negara yang cukup berkembang dan menarik untuk dikunjungi. I know it very well why people ask that. Ntah dari kapan tau rasanya pengen nulis ini, eh udah nulis dink dari kapan tau, baru sekarang dipublish. Kenapa? karena somehow udah eneg ditanya-tanyain mulu

http://cliparting.com/free-question-mark-clip-art-7625/


Kenapa Sarajevo?

Gak..saya gak pernah milih ke Sarajevo. Tapi kondisi "memaksa" saya untuk menerima tawaran kesana. Kenapa? karena saat itu, saya mikirnya saya gak punya pilihan lain.  Kok?

Sejak SMP atau awal SMA saya udah dibiayai sama si kakak yang walaupun dengan gaji seadanya, setiap saat siap ngirimin saya duit. Pernah ada satu masa ketika salah satu anggota keluarga saya nyaranin saya untuk keluar dari boarding school karena biaya. Kecewa sekali waktu itu, dan ntah gimana ceritanya saya sampe tamat masih di sekolah yang sama, walaupun kalau dipikir-pikir lagi, what did I learn there .. 

Sampailah ketika akhirnya saya kuliah, si kakak masih biayai, padahal waktu itu dianya udah nikah. Dalam bayangan saya, ketika si kakak punya anak, g sopan dan gak ngerasa pas aja kalau saya masih dibiayai. Tapi gimana caranya saya bisa punya penghasilan?  Saya terlalu pemalu dan penakut untuk sekedar ngomong di depan orang lain. Gak mungkin.

Sarajevo. nowaday | Src : here
Ketika tsunami terjadi, kampus sempat berhenti aktifitas belajar mengajarnya sekitar 1 semester. Disaat orang lain dengan segala keahliannya kerja di NGO yang gajinya banyak itu, saya justru mulai khawatir. What should I do? kerja? saya gak punya keahlian komputer, bahasa inggris ataupun bawa mobil untuk sekedar jadi driver. None. 

Singkat cerita, saya nyari beasiswa, apply sana-sini, lulus yang ke Turki, tapi kondisi saat itu - muslimah berjilbab ga bisa masuk kampus- , dan kemudian ada donatur dari Turki yang nawarin kuliah di kampus International punyanya Turki di Bosnia. Gak mudah juga untuk akhirnya saya terima tawaran itu. Bosnia loh, negara yang gak ada apa-apanya, bukannya baru perang ya, ngapain saya buang-buang waktu kesana. Segala macam pikiran ada di kepala saat itu. 

Tapi kemudian balik lagi ke kondisi sebelum tsunami, mau sampe kapan saya dibiayai si kakak, kalau saya ambil beasiswa ke negri antah-berantah ini saya bisa kuliah dibiayi, saya bisa dapat uang saku tanpa si kakak harus ngeluarin uangnya dia lagi, dan saya bisa kabur dari segala masalah yang -psychological speeking- saya gak bisa handle.

I have no other option.. I need to survive.. I need to be independent, not depending on my sister anymore (financially speaking). So I took that chance!

Excited? Gak sama sekali.. koper saya pas berangkat pertama itu penuh sesak dengan barang yang saya siapin untuk 5 tahun kedepan. Pikir saya, mana ada donatur yang sebaik itu, ngasih tiket pulang tiap tahun. Hamdalah, kejadian. 4 tahun di sarajevo, bisa pulang tiap tahunnya. 

Option?? Any ? | Src : here

For those who think it was stupid.. Yes, It was stupid at first.
Was it easy for me? big No. One of the hardest decision I've ever made.

Seandainya, saat itu saya punya pegangan lain, mungkin saya gak akan pernah kabur sejauh itu. Saya gak akan pernah ngambil kesempatan itu.  Seandainya saya gak merasa sangat rendah diri pas SMA, mungkin saya akan punya keberanian lebih. Seandainya saya bisa minta keluarga ngebiayai untuk les bahasa inggris, sedangkan di sekolah berasa lanjutan dari kelas-kelas les, yang saya gak pernah tau itu apa. Seandainya.. Seandainya .. Banyak seandainya yang lain, terlalu banyak malah. It wasn't easy, and It is not easy either untuk sekedar nulis kayak gini.

Yang gak kalah nyakitin lagi, ketika ada teman dengan kondisi butuh beasiswa bilang, kalau nanti ada lagi (beasiswa), tolong kabari ya. And I did, karena mikirnya saya tau seperti apa rasanya hidup gak ada kejelasan gitu. Sayangnya, belakangan si teman bilang ke yang lain, saya berusaha "menjerumuskan" dia untuk ke negeri antah berantah itu, tentunya sambil ngakak ketawa. Miris. bingung, marah, semua jadi 1. I just cut that friendship, thats all

***

Dear teman, tidak semua orang punya jalan hidup yang aman, damai, mulus tanpa ada hambatan-hambatan berarti. Semua orang berbeda, dari masalah hidupnya, dari rejekinya, dari cara dia menanggapi dan menjalani hidupnya. You are in no position to ask and judge their decision if you know nothing.. 

And Sarajevo.. akan banyak cerita lainnya yang akan saya tulis nantinya.. 









You Might Also Like

2 comments