Aku, Kamu, Kita, Semua Berbeda

June 08, 2017

Setiap orang punya rejeki masing-masing, punya jalan hidup masing-masing, punya pemikiran yang berbeda satu sama lain, punya cara pandang yang gak tentu sama. Anak kembar aja yg bisa dikatakan “sama” , punya banyak perbedaan.

berbeda itu indah
Berbeda itu indah | Source : Flickr

Ketika hal itu disadari, dan diterima sepenuh hati, seharusnya pertanyaan dan pernyataan seperti :
“ Kapan wisuda? “
“ kok rangkingnya lebih jelek di bandingkan si B” ?
“ Kapan dapat kerja? “
“ kok udah kuliah tinggi-tinggi, kerjanya serabutan? “
“ Kapan nikah / punya anak / punya anak lagi ? “

Dan ketika ada yang nimpali dengan “ kapan mati? “ yang nanya bisa memerah muka menahan marah. Ada yang aneh kah dengan pertanyaan terakhir ini? Seirama bukan dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya?

Dalam sebuah reality show Amerika, pesertanya adalah keturunan korea selatan yang udah  dari kapan tau netap di US. Sekalinya pulang ke negara asal, teman ibunya bilang, “ si anak bagusnya di oplas bagian a, b , c “. Maksudnya buat menyesuaikan dengan standar cakep / normalnya korea. Miris. Belakangan komentar-komentar itu hilang karena si anak udah jadi orang sukses. Lebih miris lagi. Karena ternyata maksud berubah jadi cakep itu adalah supaya si anak dapat survive nantinya, sukses dengan modal tampang setidaknya.

Cerita lainnya..

Ada 3 bersaudara. Yang pertama SMU, termasuk juara kelas dan jago science, anak kedua SMP, punya kelebihan di seni dan kerajinan tangan. Anak ke 3, SD kelebihan di sana-sini, dan cenderung menonjol di bagian Science juga. Pemikiran orang dulu, science lah yang terbaik, jurusan lain gak ada gunanya. Jadilah si anak diberikan kelas tambahan agar mampu mengejar ketinggalan-ketinggalan di pelajaran matematika dsb. Hasilnya? Sang anak justru semakin kewalahan dengan beban belajar. Ada yang salah dengan minat di bidang yang berbeda dari kebanyakan? IPA bukanlah nilai mutlak yang harus bisa dikuasai seseorang.

Layaknya sebuah kebiasaan yang salah, yang secara sengaja ataupun tidak diwariskan ke generasi berikutnya. Sudah sepantasnya hal-hal seperti itu diputuskan mata rantainya, agar tidak menjadi warisan nantinya.

bergandengan dalam suatu perbedaan
Saling bergandengan | Src : Nababan
Seperti bullying yang dilakukan senior kepada juniornya. Karena sakit hati, juniornya akan mengulang yang sama ke juniornya di periode berikutnya. Begitu seterusnya. Mau sampai kapan budaya-budaya gak baik ini diwariskan, secara turun menurun ke generasi berikutnya. Setidaknya berfikirlah, “ I don’t want it to happen to me, so I am not expecting this thing to happen to anyone”

Aku, Kamu, Kita, semua berbeda. Semirip-miripnya kita pun, pasti ada perbedaan. Mempertanyakan kenapa nasib si A berbeda dengan si B, kenapa si A lebih sukses dari si B, mengkritik si A karena belum bisa mencapai suatu posisi dalam masyarakat seperti si B, si C dan si D. 

Tidak ada yang salah dengan menjadi sesuatu yang berbeda. Justru perbedaan membuat kehidupan kita lebih berwarna-warni. Begitu seharusnya.


You Might Also Like

1 comments

  1. Setiap insan yang dilahirkan ke dunia ini memiliki keunikan telah sendiri. Maka menghargai keunikan itu akan menjadikan dunia ini lebih berwarna.

    Suka sekali anologi di post ini ka Myra. I know what you are feeling now. Trust me, Allah has created something best and nice for you/us.

    Semoga Allah mudahkan segala urusan yaaa


    Www.aulaandika.com

    ReplyDelete