Backpacking ke Pulau Aceh, Surga dunia di ujung Sumatra (I)

January 04, 2017

Setelah sebelumnya backpacking ala-ala ke Pulo Raya, beberapa dari teman backpacker udah ngewacanain untuk backpacking ke Pulau Gosong di Abdya, akhir bulan januari nanti. Gak taunya, seminggu yang lalu saya dapat ajakan untuk bergabung teman-teman backpacking ke Pulo Breuh dan Pulo Teunom. Akan sangat menyesal kalau waktu itu saya menolak dengan alasan kerja *hahahahaha

Pulo Aceh (atau Pulau Aceh) merupakan suatu kecamatan dari kabupaten aceh besar di ujung Sumatra, yang terdiri dari berbagai pulau-pulau lain. Sebut saja Pulau Benggala, Pulau Breuh, Pulau Nas, dll.  Dan kesanalah tujuan backpacking saya dan teman-teman kali ini, khususnya Pulau Breuh dan Pulau Teunom, yang jaraknya sekitar 1 jam satu sama lain.

Persiapan hingga hari keberangkatan

Berdasarkan pengalaman sebelumnya di Pulo Raya, persiapan saya ya gak jauh-jauh sama yang sebelumnya. Yang kebayang suasana di Pulo Breuh nanti ya sama kayak di Pulo Raya, (almost) gak berpenghuni, tidur di tenda / hammock, toilet yang dibuat seadanya buat beberapa hari, kalau kebelet BAB sila merapat ke semak-semak terdekat. Lebih parah lagi, saya gak ngebayangin – dan gak nanya pula – lama perjalanan dari Banda Aceh ke Pulo Breuh yang gak taunya cukup lama. Cukup bikin panik ngebayangin perjalanan dengan boat selama 3.5 – 4 jam.  Err

Layaknya trip-trip yang lain, sebelum keberangkatan kita udah sempat duduk bareng beberapa kali. Pembahasan ya gak jauh-jauh dari dana, kebutuhan (logistic dll) selama di pulau, rencana mau ngapain aja, dan hal-hal terkait.

On our way to Pulau Breuh
On the way to Pulau Breuh, Lets go!  | Src : Fahri
Kamis, sekitar jam 1.15 siang, semua anggota tim berkumpul di warung kopi dekat dengan lokasi boat berlabuh. Disanalah saya pertama kali kenal dengan semua tim backpacking *haha. Sebelumnya udah ketemu dengan 7 orang lainnya, dan di hari H ada tambahan personil – yang alhamdulilah sekali menambah kegilaan selama trip kali ini :D

Sekitar pukul 2.30, boat Meulingge bergerak meninggalkan dermaga. Our trip has officially started.

Sepanjang perjalanan yang cukup lama itu bisa dikatakan masih edisi kenalan dengan anggota trip lainnya. Dari 10 orang, cuma saya yang baru pertama kali ngetrip bareng mereka, alias yang paling gak dikenal sama semua.  Gak jarang saya kaget dengan kelakuan atau ucapan dari teman-teman. Belakangan, semuanya bisa jadi bahan tertawaan :D

Perjalanan kami ke Pulo Breuh ditemani dengan ombak yang semakin lama semakin mengganas yang setiap saat siap menghujani kami di dalam boat. Basah? udah pasti, mabuk laut? Perasaan cukup bercampur aduk, pengen muntah tapi harus langsung ke lautnya bikin saya enggan untuk sekedar mual, kalau perlu mual - muntahnya ditahan sampe berjam-jam kemudian.  

On the boat
Kondisi di boat | Src : Fais
Yang paling berkesan dan gak bisa dilupain, pemandangan alam yang luar biasa indahnya senantiasa mendampingi kami. Deretan bukit-bukit menghijau yang keindahannya mungkin setara dengan perbukitan di New Zealand sana, tebing-tebing yang dikakinya dihiasi dengan pecahan ombak laut, hamparan laut sejauh mata memandang tanpa ada penghalang sesuatu apapun, terik sinar matahari yang seakan ngingatin ,” siap-siap gosong ya selama trip” :D
Pemandangan selama perjalan ke Pulau Breuh
Selain hamparan laut, perbukitan nan hijau jadi penyejuk mata selama perjalanan
4 jam pun berlalu, saya yang awalnya masih gemetaran, deg-degan, berangsur-angsur santai menikmati perjalanan itu, sampai akhirnya dermaga Meulingge terlihat di kejauhan.

Alhamdulillah J


Day 1, nyampe di Pulau Breuh

Begitu nyampe di Pulau, kita langsung bergerak ke rumah penduduk yang lokasinya gak terlalu jauh dari dermaga. Fyi , Meulingge itu hanya 1 dari beberapa dermaga yang ada. Sesuai kebutuhan mau ke bagian mana dari pulau, pengunjung bisa sesuaikan perjalanan dengan boat yang mendarat di daerah yang mereka inginkan.

unload stuff from boat
Unload barang dari boat
Selama di Pulau Breuh, kita menginap di rumah penduduk yang super friendly, yang juga memfasilitasi kita dengan makanan dan penginapan. Jadinya tenda dan hammock gak tersentuh sementara waktu. Cuaca yang suka tiba-tiba hujan gak memungkinkan untuk masang hammock untuk tidur.  

Obrolan dengan penduduk lokal jadi salah satu agenda malam itu. Teman-teman para suhu di dunia per-backpacker-an ini rupanya udah kenal dan cukup akrab dengan orang-orang di sana. Dengan bahasa aceh yang cukup kental logat aceh rayeuk nya, jadilah di hari pertama itu semacam test kemampuan dasar bahasa aceh, seberapa jauh saya ngerti mereka ngomong apa. Kadang cuma bisa melongo, mencoba mengerti dan mencerna kata perkata, dan yang paling aman adalah pura-pura ngerti hehe. Gak jarang jadi nanya ke teman-teman, mereka ngebahas apaan haha. 
perlengkapan masak selama di pulau
Perlengkapan untuk masak selama di Pulau
Malam pertama di sana, ditutup dengan obrolan sesama kita di teras rumah, dengan suguhan kopi panas, dan tentunya ngunyah macam-macam, alias segala macam :D


Day 2, Lets go around!

Rencananya, hari kedua kita mau ke willem’s torrent, mercusuar yang hanya ada beberapa di dunia itu. Tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan, rencana dibatalkan sampai waktu yang belum ditentukan – karena cuaca maupun rencana kita lainnya. Akhirnya pagi itu kita mutusin untuk jalan ke arah pantai. 

Air laut yang jernih, pasir putih, bebatuan dan karang, bangkai kapal karam, semuanya menjadi daya tarik sendiri selama berjalan menyusuri pantai Meulingge. Di sudut ujung pantai ada sebuah tebing yang menjulang, gak sulit naiknya, apalagi setelah nyampe di atas ada hamparan alam nan menawan. Kalau istilah anak-anak jaman sekarang, lokasinya itu instagramable banget :D

Pantai di Meulingge
Pantai di Meulingge
Betah berlama-lama di atas bukit itu, rasanya mata kembali segar, pikiran kembali jernih, seakan-akan duduk di atas sana sambil mandangin hamparan laut dan gugusan pulau-pulau lain di kejauhan memberikan energi positif yang luar biasa efeknya untuk saya. Tapi terik matahari yang semakin menyengat dan suara panggilan dari teman-teman "memaksa" saya dan beberapa lainnya untuk bergegas turun dan berjalan menyusuri pantai, untuk kemudian ngopi di warung warga di dekat pantai.

Siang menuju sore, dengan menyewa mobil penduduk lokal, kita berangat ke Rinon, Lambaro, hingga Lampeuyang, beberapa derah lainnya di Pulo Breuh, dari hunting foto dermaga dan kapal yang sedang berlabuh, hamparan alam nan cantik, makan bakso di Paloh, hingga mengejar sunset di Lambaro. 

 Explore Pulau Breuh | Src : Fais
Ketiga daerah yang saya sebutkan di atas semuanya menyuguhkan alam yang serupa tapi tak sama. Sama-sama berlatar belakang laut, tapi keindahan yang disajikan cukup berbeda antara satu dengan yang lainnya. Makanya gak heran, setiap saat ada yang minta mobilnya diberhentiin karena ada spot cantik yang wajib diabadikan. Terutama Rinon, kecantikannya ajaib, luar biasa cakepnya, cuma bisa terkagum-kagum melihat alam yang disuguhkan di sini.


" ketika kita menikmati dan mengagumi keindahan yang alam suguhkan, 
bagaimana mungkin kita melupakan Dia, sang pencipta keindahan itu sendiri"

Sunset in Pulau Breuh
Sunset in Pulau Breuh | Src : Fais

Perjalanan sekitar 2 jam itu, juga senantiasa diselingi dengan candaan dan obrolan "gila" dari teman-teman. Gak jarang karena saking keasikan ngakak, kita missing 1-2 spot cantik di sepanjang perjalanan.

Panggilan azan maghrib terdengar di kejauhan, penjelajahan kita hari itu dihentikan. Langit juga mulai semakin gelap, kita pun kembali ke Meulingge. Bintang-bintang pun mulai kelihatan satu persatu, menghiasi langit malam dan kami dalam perjalanan pulang.

Eh bentar,  maksud hati di hari kedua ini kita akhiri dengan ngopi-ngopi di warug kopi di pinggir pantai. Apa daya dalam perjalanan pulang dari warung kopi itu, kita dapat gurita, yah.. ngunyah lagi sampe rumah :D


Day 3 ... 







You Might Also Like

15 comments

  1. mupeeeeeng.... hiks
    so? day 3? to be continued?? bek trep mira.. sambong aju.. HAHAHAHA

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D , tu lah via.. banyak kali ceritanya.. sampe capek nulisnya..dan itu banyak di skip pula :D

      Delete
  2. Kalo udah emak2 udah susah jln2x seru kaya gitu,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe iya ya kak.. tapi masih akan tetap bisa kok, banyak temen mira yang bawa anak smape ke pulau :)

      Delete
  3. seru kalo rame-rame bareng temen-temen gitu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. banget, walopun sebagian besar baru kenal pas mau trip

      Delete
  4. Sunsetnya cakep kali kak mira...
    Ajak saya... ajak saya lagi... #mintaSambilGuling-guling

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaa.. coba cek fb / ig nya traverious, udah ada jadwal trip lainnya tina :D , fotonya juga punya mereka

      Delete
  5. Gitu ya, pamer. Dikira kami gak kepingin apa?

    Yang kamu lakukan itu jahhaaat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D :D , tunggu kami di takengon bang :D

      Delete
  6. OOhh,, jadi kalau berangkat sendiri2 ceritanya ni..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaa.. yuk lah next trip rame2 dr gib :D

      Delete
  7. Jadi teringat ekspedisi ku tahun lalu ke Pulau Breuh ini :D http://www.yellsaints.com/2015/10/anak-pulau.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh udah pernah yaa.. asik kali pulaunya kan :D

      Delete
  8. pemandangan sunsetnya kecee banget ya.

    ReplyDelete