Pertemuan Singkat dengan Penulis Hebat , Agustinus Wibowo

July 12, 2016

“ Agustinus Wibowo..bukunya tentang apa? Oke gak? “
“ Bagus, recomended, rada berat sih.. aku belum selesai baca, tapi oke kok”

Kira-kira itu lah awal mula saya mengenal nama Agustinus Wibowo, suatu hari ketika saya main ke rumah teman, beberapa waktu sebelum balik ke Indo. Nama itu terselip di deretan buku-buku dengan penulis ternama asal Indonesia, yang tak satupun karyanya pernah saya baca. Tapi kali ini, saya harus benar-benar research buku bacaan ber-bahasa indonesia. Simply, saya akan sangat butuh bacaan selama di indo (yang minus free internet hehe) nantinya.

Beberapa bulan setelah di Indo, lagi-lagi saya ngeliat nama ini tertulis di sampul buku yang berjudul “ Selimut Debu”, di lemari buku si kakak. Langsung lah saya jadikan hak milik pinjam, sekalian dengan buku berjudul “ Garis Batas” hehe

Berat bacaannya? Lumayan, tapi gimana gak berat kalau banyak banget informasi yang disampaikan disini. Dari awal baca aja, saya udah terkagum-kagum dengan latar belakang ceritanya. Deskripsi tempat yang sangat mendetail membuat saya menghayalkan negara tersebut dengan sangat jelas. Cukup berbeda dengan bacaan-bacaan saya selama ini * ck ck ck..selama ini bacanya apa siihh. 



Tulisan beribu cerita karya  Agustinus Wibowo
Selimut debu, Garis Batas, dan Titik Nol | Src : http://goo.gl/TBQZQe
Selimut debu merupakan buku pertama yang saya baca, dan jadi yang paling berkesan (sejauh ini). Tulisan yang berlatar belakang tentang Afganistan (dan Pakistan) ini benar-benar luar biasa detailnya. Saya pribadi udah cukup familiar dengan Peshawar, suatu kawasan di Pakistan yang cukup sering disebut dalam buku ini, yang juga kampung halaman seorang sahabat. Gambaran Peshawar di masa lalu pun cukup bisa saya bayangkan karena seringnya si sahabat cerita. Tapi dari buku ini, semakin lengkaplah informasi yang saya dapatkan. Sedang afganistan (di masa lalu) , ternyata lebih kelam dari yang selama ini saya liat di media.

Yang bikin tulisan beliau semakin menarik adalah ketika beliau menuliskan pertemuan dan pengalamannya dengan traveler yang lainnya, yang juga ikut membuka cerita-cerita di balik kehidupan perempuan ber-burqa di Afganistan. Bagaimana mereka (orang luar) yang mungkin di awal kedatangan ke Afganistan ikut mempertanyakan budaya (yang menyatu dengan agama) mereka, namun dengan ikut berbaur dengan komunitas lokal, justru bisa melihat budaya tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Begitu juga dengan perjuangan kaum perempuan disana, yang bernaung di bawah suatu organisasi bawah tanah bernama RAWA. Juga interaksi beliau dengan penduduk yang dengan latar belakang yang jauh berbeda, yang tak jarang saling bermusuhan, Semakin kaya lah sejarah yang beliau gambarkan. Dan sudah seharusnya, dunia tau kisah-kisah itu.

Terlepas dari "kelam" nya kehidupan di Afganistan, beliau juga memperkenalkan negara ini sebagai suatu daerah dengan keindahan alam dan sejarahnya. Sayangnya, peperangan yang tiada akhir ikut memusnahkan sejarah-sejarah dunia yang ada di sana. 



The D-day ..

Awalnya tersiar kabar kalau Mas Agustinus akan ke Aceh dari twitternya teman (yang ternyata temannya). Jadilah heboh dan gak lupa ngerecokin si teman tiap hari untuk diatur waktu ketemuan dengan beliau. Bahkan ada yang mau nyusul dimanapun Mas Agustinusnya. Rela deh puasa-puasa, dengan panas terik, bawa motor pula, demi ketemu, kenalan dan ngobrol langsung sama si penulis. Saya sendiri iri udah tingkat dewa ngeliat photonya teman-teman dengan beliau. Saya kapaaaaan >.<

Setelah beberapa hari, si teman mengabarkan kalau mereka akan ngopi setelah tarawih, sekitar jam 9.30. Malam-malam ke warung kopi yang isinya cuma cowok dan asap rokok. Mustahil rasanya. Bersyukur sekali ketika ke 2 teman cowok lainnya pada bawa istri, aman lah akhirnya, saya bisa ikutan. Walaupun tetap aja ngerasa gak nyaman lama-lama disana.

Begitu masuk ke warung kopinya, ngeliat ada mas-mas dan langsung nebak, ini nih penulisnya. Si Mas nya juga ramah bener, saya yang awalnya rada grogi (kayak apaaa aja :D ) langsung ikutan sumringah. Sekilas, terlihat jelas orangnya sangat ramah dan low profile. Sayangnya beberapa menit berikutnya beliau harus pindah ke meja sebelah untuk ngobrol dengan penulis lainnya, untuk bahan risetnya kali ya. 

Sebagai seorang fan yang baik hati *halah*, saya nunggu mas penulis selesai ngobrol di meja sebelah, sambil deg-degan ngeliatin jam yang semakin condong ke pukul 11 malam. Duh, harus pulang, tapi saya belum ngobrol, belum minta tanda tangan, dan yang pasti belum photo. Mau samperin langsung tapi gak sopan amat. 



Selimut Debu dan tanda tangan penulisnya
"Selimut debu" yang mulai lecek .Err

Ngelirik jam lagi, 11.10 pm. Ya udah, harus pulang, gak mungkin juga di warung kopi sampe jam segitu, walopun di lubuk hati yang paling dalam nangis sesunggukan karena gak kesampaian ngobrol lama dengan beliau. Hiks. 

Dan pertemuan singkat malam itu, berakhir dengan tanda tangan beliau di buku Selimut debu yang cukup lecek, photo bareng *lompat-lompat kegirangan* , dan rencana ketemu beliau lagi esok harinya. Yah, walopun akhirnya batal. Tapi tetap berharap semoga suatu hari bisa ketemu lagi, dan bisa ngobrol lebih banyak. 
*****

Membaca tulisan-tulisan beliau seperti belajar sejarah dunia, pembaca juga seakan-akan menjadi  pelaku yang menyaksikan sejarah itu sendiri. 

Membaca pengalaman beliau traveling ke penjuru dunia, seakan memperjelas makna dari kata traveling dan traveler. Tulisan beliau benar-benar mendeskripsikan traveler itu apa, traveler sejati itu seperti apa. Ada baiknya untuk lebih berhati-hati kalau ingin menyebut diri seorang traveler, karena sejatinya, traveler itu, ya seperti beliau ini hehe


Cant wait for you next project Mas Agustinus :)



- ditulis beberapa minggu setelah bertemu dengan penulis Selimut Debu- 






You Might Also Like

16 comments

  1. Alhamdulillah, keluar juga tulisan ini.... :D
    Walau sebentar yang penting berkesan #klise wkkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah..
      next time beliau datang lagi..tolong diatur2 lah Ib :D

      Delete
  2. Aku baca 2 bukunya minjam dari pustaka KBRI Mir... Pingin punya juga sih, tapi tiap mau beli hati kok tergerak milih novel ya. Mudah2an bisa punya lah ntar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak.. rugi kalau gak punya memang :D

      Delete
  3. kok nama kawanmu nggak di sebut mir???
    hmmm.. percuma gw nemenin elu sampai elu pulang grrrr

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahhaha... ntar aku harus sebut nama putri, 2 kurcaci, ibnu, isri ibnu, hendri..maakk banyak :D
      danke ya.. untung ada kalian :D

      Delete
  4. Jadi prnasaran ingin baca buku mas agustinus juga btw foto brng penulisnya kok nggak dipjng

    ReplyDelete
    Replies
    1. takut terkenal kak hahahahah..

      bagus kak, recomended bukunya :D

      Delete
  5. Saya juga menyukai buku buku Agustinus Wibowo. Bahkan saya follow blog nya agar bisa membaca setiap kali dia update. Membaca tulisannya memberi pemahaman lebih dalam, membuat saya mengerti dan memahami cara hidup orang lain Lebih baik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget, beliau menuliskan sesuatu itu dari beberapa sudut pandang, gak mentok di hitam atau putih. kita sebagai pembaca pun jadi terbuka pikirannya hehe

      makasih udah mampir :)

      Delete
  6. Sampai akhir postingan nunggu ending foto barengnya malah kagak ada. Saya juga kecewa di sini. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaha, gak pede masukin photonya haha

      Delete
  7. Wah belum pernah baca bukunya mas agustinus. Tapi klo dari judul buku dan sedikit teaser dr artikel ini jadi tertarik nih. Selamat ya mba bisa ketemu penulisnya langsung...

    ReplyDelete
    Replies
    1. recomended mba, tapi emang harus banyak sabar bacanya, selain panjang detail informasinya bejibun... hehe

      Delete
  8. hebat, semoga bisa termotivasi dan menjadi penulis hebat selanjutnya
    OBAT BATUK ANAK
    Salam super

    ReplyDelete