Ketika Malaikat Mengaminkan...

May 02, 2016

“Gak daftar, takut lulus”

Begitulah tanggapan saya ketika teman-teman semangat apply untuk calon dosen disebuah PTN di Aceh.  Antara becanda dan serius. Becanda karena dari awal saya gak punya minat seperti yang lain untuk jadi akademisi, jadi ya g akan apply. Pengalaman mengajar juga belum punya. Serius juga, karena kalau beneran lulus, saya harus gimana dengan kerjaan yang sekarang, tanggup jawab disini belum selesai.

Last minute sebelum ditutupnya jadwal pendaftaran, saya submit aplikasi dengan segala macam kekurangan. Masih ogah-ogahan sebenarnya, tapi teman-teman bilang, “ hayuklah ikut, setidaknya kita testnya bareng dan punya pengalaman test dosen itu kayak gimana”. 

Kekurangannya? Ijazah yang gak dilegalisir dan belum ada penyetaraan dari dikti, CV yang masih english version alias gak ada waktu buat ditranslate lagi, pasphoto yang diphoto pake hape beberapa jam sebelumnya dan diedit ala kadarnya sama abang. Kondisi aplikasi yang kalau diingat-ingat gak layak unuk diluluskan. Pas submit pun saya langsung ditanyain, ngapain di Bosnia?, " ngutip peluru pak  “ , jawab saya santai

Dua hari kemudian seleksi berkasnya selesai, nama-nama yang masuk test berikutnya diumumkan. Guess what? Lulus dan besoknya ikut test lagi.  Bingung lah saya semalaman. Mau belajar tapi gak tau apa, persiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk interview juga gak tau kira-kira mau ditanyain apa. Bahkan dari sore saya udah tepar, demam tinggi. Ah, dapatlah satu alasan buat saya gak ikutan test itu. Sakit.

*berhubung kerja yang sebenarnya versi ibu saya adalah pns / dosen, jadi agak susah untuk nyari alasan gak ikutan test yang satu ini. Sakit, bisa jadi alasan yang sangat kuat :D

“Mir, jangan lupa testnya ya, ingat-ingat pertanyaan nya juga. Wawancaranya juga. Jadi next time kita ikutan test, udah tau kayak gimana bentuknya” – sms dari seorang teman. Yaahhh!

Dengan kondisi yang benar-benar gak enakan, saya berangkat ke lokasi ujian yang sejauh mata memandang gak ada yang saya kenal. Diantara teman-teman sekantor, cuma 2 orang yang lulus seleksi awal, tapi ujiannya di ruangan terpisah pula. Sebagian besar peserta bisa dikatakan alumni dari kampus itu, sebagan lagi bahkan sudah terdaftar sebagai staf pengajar kontrak disana. Wuih.

Test tulis terbagi ke dalam 2 sessi, masing-masing 2 jam dan diselingi waktu istirahat 15 menit. Testnya kayak gimana?

Wawasan kebangsaan yang penuh dengan pasal-pasal dan pengetahuan kebangsaan lainnya. Rada nyesal hafalan P4 jaman smp dulu udah dilupain dari kapan tau

Semacam psikotes. Menarik, Sakit kepala tapinya setelah itu

Test kepribadian. Dari 5 multiple choice cuma satu yang positif, ya udah jelas lah ya jawabannya.

Wawancara. Test terakhir yang secara jelas mengatakan “ kamu gak mungkin lulus disini” . Oke.

Dan sayapun melenggang keluar ruangan dengan santai. Puas malah, karena gak ada ekspektasi apapun, jawab pertanyaan-pertanyaan dengan santai, (kelewat) jujur, dan beberapa kali keceplosan pula. 

The “ good” news comes when I think that “life suck! “

Kalau seandainya teman gak ngigatin, jadwal informasi kelulusan pun pastilah saya gak akan ingat. Kerjaan di kantor dan project luaran juga harus segera disiapin padahal udah terlalu capek untuk sekedar ngelirik komputer. Ditambah lagi masalah-masalah sepele lainnya. My life sucks, at that moment. 

Ketika kemudian seorang teman bilang saya lulus, sempurnalah kebingungan saya. Saya harus gimana? Waktu itu yang kepikiran cuma pulang dari kantor lebih awal, kemana gitu, ntah ngopi, ntah minta pendapat orang-orang terdekat. Sempat kepikiran pengen nyeburin diri dimana gitu. Sebelum pulang sempat mampir di ruangan sebelah cuma untuk bilang , “ mira lulus.. gimana ni? “ Dan si teman melongo dan bilang, “ Jehh”  .

Ketika kakak dan abang saya tau berita ini pun, bukannya ngucapin selamat (kayak seharusnya) , malah pada ketawa dan langsung nanya, “ jadi? “ . Dan saya pun cuma geleng-geleng kepala. Bingung juga.

Hayuklaah | Src : google
Bukannya tidak bersyukur dengan rejeki yang sama sekali tidak diduga-duga ini. Pertama, selama proses test, tidak ada indikasi saya akan lulus dan berharap lulus. Makanya santai aja dengan segala testnya juga. Kedua, saya gak bisa ngomong untuk share ilmu atau informasi di depan banyak orang. Lah presentasi jaman kuliah dulu aja sampe mohon-mohon sama dosen supaya ngasih paper aja tanpa presentasi. Makanya ajakan ngajar setahun terakhir ini selalu saya tolak. Beban dan tanggung jawabnya kelewat berat. Ketiga, Its just not my thing! *hiks .  Dan kakak / abang saya tau itu.  Seminggu sebelum pengumuman ini, seorang sahabat di Jawa sana menawarkan posisi mengajar di salah satu kampus yan baru buka prodi IT. Seperti biasa, dengan alasan-alasan diatas, saya tolak (lagi)

H-3 sebelum waktu pendafataran ulang ditutup

Diskusi sana sini pun terus aja saja saya lakukan. Perlu masukan. Sebenar-benar masukan. Dan sebagian besar komen yang sama, ambil kesempatan ini. Dari sebagian banyak alasan yang mereka utarakan, bahkan sampe ke “mudah dapat beasiswa S3 ntar”pun gak membuat saya berfikir untuk langsung mengiyakan. Duh...


 Ketika malaikat mengaminkan...

Dulu, seorang teman pernah ngomong, ketika dulu saya bilang akan ke Jerman suatu hari nanti, saat itu...malaikat mengaminkan kata-kata tersebut. Selang beberapa tahun kemudian proses beasiswa saya yang awalnya cuma bisa ke negara lain malah pas wawancara diajak bergabung sama team beasiswa jerman. Iya, harapan masa keil saya itu diaminkan hingga akhirnya saya berangkat ke eropa (lagi)

Kali ini pun saya menganggap begitu. Ntah karena omongan saya di awal itu yng kemudian diaminkan, ntah karena mungkin dulu saya pernah di"dokrtin" untuk jadi guru (sepeti alm. bapak) . Ntah lah.

Akhirnya saya terima, terima untuk mulai berkarya di tempat baru (tanpa ninggalin kantor sekarang dulu). Kalau sebelumnya bingung harus terima atau gak, sekarang malah super capek nyiapin berkas pendaftaran ulang yang bejibun banyakanya, 

Bismillah..Smoga amanah yang baru ini bisa dikerjakan sebaik mungkin, semoga kuat dengan semuanya, 

  



You Might Also Like

3 comments

  1. waaaah miraaaa... hebaaaat... jadinya beneran lulus ya mir, kemarinkan cerita masih tahap awal.. aseeeek, mir.. walo merasa ga berbakat, tapi ambil possitifnya saja.. mira bisa hidup dengan jadi bermanfaat bagi orang lain, yang mira bagi itu adalah ilmu, ga akan lekang zaman,, jadi sedekah.. dan In Syaa Allah berkah bisa meminimalisir hal2 yang ga sesuai hati nurani yang salam ini kita hadapi di birokrasi hehehe (jujur banget) :D
    chukkhaaaeee miraaaa... proud of you ^_^

    ReplyDelete