Psikiater itu Bernama Keluarga

February 22, 2016

Ngejudge seseorang sebagai orang yang gak waras alias gila emang kelewat mudah. Dan kalau ditanya kriteria utama gila itu seperti apa, cukup dengan nunjukin atau nyebutin satu nama (atau nama panggilan) para penderita sakit jiwa yang berkeliaran bebas di jalanan kota Banda Aceh ini. Padahal definisi gangguan jiwa masih jauuh lebih banyak dari yang kita tau, kadang malah kelewat simple sampe kita mikir, iya gitu.. cuma gitu aja dianggap gila? Well, kata si mbah wiki, gangguan mental atau gangguan jiwa itu adalah pola psikologis atau perilaku yang pada umumnya terkait dengan stress atau kelainan mental yang tidak dianggap sebagai bagian dari perkembangan manusi normal.
Beberapa kondisi yang dapat dianggap sebagai gangguan jiwa adalah anxiety , ketakutan berlebihan, suka nyiksa diri dan masih banyak lainnya. 

Dari definisi diatas, I know I am one of them. *glek

Source : http://www.yourmindyourbody.org/mental-health-blog-day-links-round-up-2015/
Saya mengalami insomnia akut dari jaman SMA dan kemudian kembali kambuh beberapa tahun yang lalu. Dari awal saya menduga pasti ada hubungannya dengan hecticnya sekolah dan belakangan dengan persiapan thesis yang super memakan waktu dan pikiran. 

Pas jaman SMA misalnya, saya sempat menjalani test dengan EEG yang waktu itu cuma ada di Rumah sakit jiwa Banda Aceh. Ketika teman-teman tau, walopun setengah becanda mereka sering ngomong ," eh eh.. ada yang agak gak waras" , ucap mereka, mencoba menghaluskan  kata "gila" menjadi "agak gak waras"

Selama kuliah S1 insomnia juga gak pernah jauh-jauh kaburnya, tiap bulan pasti mampir beberapa hari. Yah, namanya juga mahasiswa ya, pastilah kadang harus begadang dan karena kebiasaan dan berujung ke insomnia. Begitu pikir saya dulu. 

Ketika kemudian kambuh lagi, dokter langsung melakukan berbagai macam test tapi gak nemu apa yang mereka kira exists. Setelah sebulan bolak-balik konsultasi dan pengobatan, bahkan sampe obat tidur, akupunktur dll, akhirnya mereka ngeluarin resep terakhir, psikiater.  Tanpa sadar saya pun ngerasa udah dianggap "gak beres" sama si dokter *hahaha . 

"You need to talk to people, instead holding it yourself" , kata si dokter, and that's what I did, later on.

Orang-orang terdekat selama merantau adalah pengganti keluarga yang sebenarnya. Ah, they are also family, from different root. Keputusan saya untuk akhirnya ngobrol banyak hal, hal-hal yang selama ini cuma dipendam sendiri muncul karena desakan mereka juga. Teman-teman selama di jerman ngeliat langsung gimana seringnya saya "error" karena kurang tidur, emosi yang gak stabil, ketakutan-ketakutan untuk hal sekecil apapun, yang berujung ke banyak permasalahan lainnya.  

Rasa malu untuk cerita, malu kalo yang difikiran itu semuanya dianggap aib, dan ketakutan akan di judge oleh yang lain coba saya runtuhkan hari itu. *Oiya..itu katanya juga ciri-ciri penyakit jiwa loh ;) * . Saya cuma diam duduk di pojok ruangan, dengan segelas teh hangat, mencoba mulai cerita tapi kok ya susah ya. Saya ingat waktu itu, saya malah diajak ngomong lain-lain dulu sampe akhirnya mengalirlah uneg-uneg saya selama ini. Almost, gak smuanya dicerita. And what happen after? sampe beberapa minggu berikutnya, di masa-masa super sulit saya menjelang deadline thesis dan sidang, tiap malam saya bisa tidur dengan nyenyak. Hamdalah.

Seandainya saya berani cerita dari dulu-dulu, pasti udah dari kapan tau saya bisa tidur nyenyak. Seandainya penyakit anxiety saya diobati dari kapan tau, tentu saya bisa kuliah dengan lebih nyaman. Seandainya dan masih banyak andai-andai lainnya. 

Sebagai penderita gangguan jiwa (duh..kok ya susah nyebut diri gitu) yang paling sulit adalah menyadari bahwa dalam diri juga punya kecenderungan ke arah sana,  dan ngambil inisiatif untuk nyembuhin diri sendiri, dan accept that you need other people to help you get better . Dan ingat, keluarga dan orang terdekat, adalah pihak yang paling mengerti kondisi kita dan (semoga) bisa ngasih solusi atas kondisi kita tersebut.


Tulisan ini diikutkan dalam giveaway Aku dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang diselenggarakn oleh Liza Fathia dan Si Tunis






You Might Also Like

4 comments

  1. Hai Miraaa.. Udah lama nih nggak blog walking. *suka ketinggalan postingan yg non-wordpress* huhu..
    Udah balik dari Jerman yaa? :)
    Aku juga pada tahap tertentu pernah merasakan kecemasan berlebihan. Bener banget, kita butuh tempat untuk mencurahkan perasaan dan jujur ttg diri kita sama orang yg kita percayai.
    Semangat yaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ihh samaa.. aku juga udah lama gak blogwalking :D , udah hampir setaon di indo lagi, Alhamdulillah..

      kalau seneng terus, bahagia terus, hidup kurang berwarna kali ya *lah :D

      Delete
  2. bener banget kak, lebih baik kita jujur pada diri sendiri atas apa yang kita alami dan menceritakan hal itu pada orang terdekat. kalau ga selesai baru cari pihak ke tiga. kalo kak mira insomnia, liza hipersomnia kaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayoo semangat biar segera seumbuh juga :)

      Delete