Banda Aceh dan jam malamnya

June 06, 2015

Lagi-lagi Aceh jadi bahan pembicaraan dimana-mana. Dan kali ini seputar pemberlakuan jam malam untuk wanita yang keluar rumah di atas jam 11 malam tanpa didampingi keluarga/mahram.

Berawal dari postingan blog bbrapa teman yang memasukkan " Banda Aceh Masuk akal" di judulnya, dan katanya di soc med udah rame, jadilah saya "jalan-jalan" di twitter nyari twit yang pake hashtag ini. Voila.. banyak euy.

Mesjid Raya Baiturrahman. Cakep yak :D | src : http://bit.ly/1Ju7Ryu

So? emang kenapa dengan jam malam ini? Sampe sekarang saya masih bingung ketika banyak orang menolak himbauan ini. Bukannya itu hal yang baik? bukannya justru itu melindungi perempuan itu sendiri? bukannya dengan aturan ini, perempuan yang bekerja bisa selesai lebih cepat dan segera berkumpul dengan keluarga?bukannya dengan peraturan semacam ini juga menghindari kita, perempuan, jauh dari fitnah?

Mungkin saya bingung karena sampe saat ini maghrib itu udah jadi alarm saya untuk segera pulang. Mungkin juga karena saya tinggal rada di pedalaman, dan klo keluar rumah malam-malam harus ada yg nemenin. Mungkin karena saya takut keluar malam. Atau mungkin juga saya tlalu ketinggalan jaman, dimana laki-laki dan perempuan itu punya hak yg sama tapi saya malah setuju-setuju aja dengan himbauan yang katanya merugikan pihak perempuan ini, jadi g ngerasa aneh dengan aturan ini. Mungkin .

Malam di Banda Aceh | Src : http://bit.ly/1FErqwF


Alhamdulillah, setelah beberapa hari akhirnya ada diskusi terbuka dengan Walikota Banda Aceh, tepatnya kemarin, jumat 5 Juni 2015 di Mesjid Kampus Unsyiah, Banda Aceh. Beberapa hal yang saya ingat dijelaskan dan diklarifikasi seputar himbauan ini adalah :
  • Jam malam, bukan setelah jam 7 , atau 9 seperti yang banyak saya baca di soc med. tapi jam 11 malam.  Himbauan ini sudah terlebih dahulu dikeluarkan oleh Gubernur Aceh, yaitu jam 9 malam. Namun, pihak kota Banda Aceh kemudian mengkaji kembali, dan juga disesuaikan dengan kearifan lokal, maka jam malam ditetapkan setelah jam 11 malam.
  • Berlaku untuk perempuan yang bekerja di tempat-tempat wisata, warnet, cafe. Jauh sebelum himbauan ini keluar, aturan ini udah tertera di undang-undang ketenagakerjaan. Dan Banda Aceh sedang mengimplementasikan hal tersebut.
  • Bagi pemilik usaha yang melanggar aturan ini, tentu mendapat sanksi, salah satunya pencabutan ijin usaha. 

Hal yang sama juga tentunya berlaku untuk perempuan yang berada di luar rumah setelah jam 11 malam tanpa didampingi keluarga/ mahramnya.

Menariknya, selama diskusi yang berbicara smuanya pro dengan himbauan ini. Yang kontra mana?  Alangkah baiknya pihak-pihak yang mempertanyakan, yang against, ikut hadir dan berdiskusi langsung dengan walikota, sehingga hal-hal yang mereka pertanyakan bisa langsung dapat jawaban. And hopefully everything will be clear.  Sehari sebelum diskusi saya sempat post di soc med tentang event ini, dengan harapan akan ada teman-teman diluar sana yang nitip pertanyaan, komentar, tanggapan dll.

Personally, saya gak nemu alasan kuat untuk menolak himbauan ini. Keluar malam tanpa didampingi mahram / keluarga bukanlah sesuatu yang aman dan baik dilakukan.

Jadi ingat bbrapa tahun yg lalu, saya pulang -lupa darimana- jam 10an malam. Di salah satu halte saya berhenti dengan maksud nunggu tmn yang ketinggalan di belakang, jadi bisa jalan bareng. Saya disamperin sama bapak/ abang-abang, dan itu gak cuma sekali. Tiap ditanya saya jawab sama suami / bapak yang lagi belanja di apotik - kebetulan dekat situ ada apotik.  Saya cerita ke yang lain, and I found a scary fact, banyak perempuan gak bener di jalanan jam segitu, dan mereka berjilbab rapi. Ehhh? seriously? Padahal awalnya saya dengan pede bilang, saya berjilbab, g mungkin lah diapa2in.

Lagi..saya masih setuju dengan himbauan ini.

Eh bentar...banyak yang nanya, kenapa cuma perempuan? laki-laki gimana? kenapa himbauan ini gak berlaku untuk smua?

Well..Kalo dipikir-pikir lagi..malam itu waktunya untuk dirumah kan? waktu dimana keluarga berkumpul bersama. Anak bercerita dengan orang tuanya tentang kesehariannya. Saat dimana keluarga saling berbagi satu sama lain? Misalnya anak yang berstatus siswa harusnya udah dirumah, sehingga mereka bisa istirahat dan bisa menyerap ilmu dengan lebih baik keesokan harinya. Peran sang ayah, yang gak jarang lebih banyak memenuhi warung-warung kopi di malam hari, juga penting di dalam keluarga. Artinya, bukankah akan lebih baik, lebih indah.. ketika aturan ini berlaku untuk semua pihak?It would be great klo ini berlaku untuk semua kan :)

Bagaimana dengan perantauan? mahasiswi dari luar daerah yang tinggal di kost-an? tanggung jawab orang tua jatuh ke tangan si pemilik kost-an. Jadi tidak ada pengecualian.

*****

Seharusnya mungkin himbauan ini tidak pernah ada. Karena hal ini harusnya udah diajarkan di keluarga. Namun ketika "keluar malam" ini menjadi hal yang sangat biasa, yang tidak sesuai dengan norma setempat,  maka pemerintah punya kewajiban untuk meluruskan hal-hal yang salah. Jika dengan adanya himbauan ini akan banyak permasalah yang timbul, mari sama-sama kita cari solusinya, yang kita inginkan adalah banda aceh yang lebih baik kan? dan itu jadi tanggung jawab kita smua.

Ketika malam bisa ditertibkan, maka kerjaan pemerintah (untuk bagian ini) akan sedikit berkurang, yang kayak tulisannya b.ariel, pemerintah akan punya banyak waktu untuk menyelesaikan hal-hal penting lainnya dan menjadikan kota ini beneran jadi Banda Aceh yang masuk akal. InshaAllah.



Anyway..jam 11 itu bukannya udah larut ya (untuk banda aceh)?  *masih nanya



*mohon maaf kalo ada info yg kurang tepat yg ditulis disin dari hasil diskusi kemarin, sila dikoreksi 










You Might Also Like

21 comments

  1. Kalau kami sekeluarga, kebiasaan di rumah dari kecil yah memang waktu maghrib itu udah pada ngumpul di rumah.. boleh keluar kalau ke mesjid atau ngaji... itu juga cuma sampai Isya.

    Waktu ngekost di Banda Aceh juga ada jam malam yang diberlakukan ibu kos.. Jadi harusnya tidak masalah ya, karena kita sudah terbiasa tak keluar terlalu malam.. Apalagi ditolerir sampai jam 11 malam.

    Hanya saja mungkin... kalau orang luar Aceh yang mendengar ini.. karena masalah ini dijadikan peraturan pemerintah jadi kesannya 'apa-apa diatur..hal-hal kecilpun diatur' gitu kali ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama..klo pulang hbs maghrib tiap 5 mnt ditelp haha

      iya..karena yg diluar g ngeliat langsung, jdnya cuma bs berkomentar :|

      Delete
  2. setuju memang, masalahnya terkadang "letak" yang sedikit tidak relevan mengingat begitu banyak hal yang menyangkut masalah sosial masyarakat yang lainnya. semisal air bersih, sampah, sampai pembenahan tempat wisata serta masjid2.
    but, semua kembali pada diri masing2 klo menurut abang, mendingan dari pagi sampai pagi diberlakukan wanita itu jangan keluar klo g ada mahramnya. bukankah begitu syariat islamnya?

    ketika kita hubungkan ke situ, maka akan di katakan kan sedikit2 dl, lalu apa bedanya? sampah juga sedikit2 dl.. air sedikit2 dulu? duuuuh jadi panjang nih :D
    intinya yaa bingung sayah :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhahaha...

      klo perempuan g blh kluar sama sekali kecuali didampingi mahram, g bisa jg yud, bakalan banyak pengecualiannya, misal janda, ttp harus kluar buat cari nafkah untuk anaknya.. dll

      Delete
  3. Saya dulu juga kebiasaan maghrib udah di rumah. Setelah itu, berkeliaran pun gak jauh2 dari kompleks rumah.

    Malah enak kalo ada jam malam, apalagi kalo jam malamnya jam 7. Bisa ada alesan gak ngelembur :D :D :D

    ReplyDelete
  4. Btw, banyaknya yang kontra di sosmed (terutama yang warga Banda Aceh), bisa jadi indikator sosialisasi yang kurang, makanya alangsung kontra tanpa kroscek terlebih dahulu mengenai aturan itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. satu kesalahan dri masyarakat, kesalahan lainnya dari pemerintah jg yg gak langsung mengklarifikasi di awal2, bisa juga kesalah di media yang sukanya bermain kata, jadinya yg baca juga gak bs langsung ngerti

      Delete
  5. Setuju banget dengan aturan ini. Kalau di atas jam 11 cewek masih di luar, duh gimana itu ya... Bagaimana oerasaan orang tuanya kalau mereka tahu hal itu. Bener banget kak, yang kontra mana nih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. smoga yg kontra udah mulai sadar skrg :D

      Delete
  6. Emmm....kekmana ya... Kadang jadi orang yang selalu berpositif thingking itu bikin susah mutusin setuju atau ga setuju sama peraturan ini. Tapi setuju sama himbauan itu ga perlu ada kalau dari keluarga udah menjadikan pulang sebelum magrib sebagai kebiasaan. Dan berkat konfirmasi ini jadi tau kalau memang ada aturannya di ketenagakerjaan. Semalam lewat salah satu gerai fastfood aku liat sudah mulai tutup jam 11 malam. jadi melindungi pekerja bekerja larut malam juga kan ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. salah satunya kan itu..melindungi pekerjanya juga.

      Delete
  7. Klo ada rule kayak gitu di Jakarta aku setuju loh. Kan ga ada alesan lagi meeting sampe jam 9 malem. Sekalian aja jam malemnya jam 8 biar bisa pulang kantor jam 6 sore hhahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. smoga segera diberlakukan Nya, tapi pulang kerja cepat disambut macet...err...lama jg nyampe rumah ya :D

      Delete
  8. Setuju kali sama tulisan. Cerdaaaaas :D

    ReplyDelete
  9. Makanya mending WIB pake waktu WITA aja jadi maghrib jam 8an di aceh hahahah..kan enak yang cewe kalo mau keluar sampe jam 9 baru mulai isya.. saran doang neh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. seakan-akan jadwal sholat bisa diatur sebegitu simplenya :)

      Delete
  10. Tulisan yang bagus gini dibilang blog abal-abal, ah Mira merendahnya kelewat ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha astaga..udah lama kali gak buka blog, dan ternyata komennya blm dibalas..

      Delete
  11. Menurutku pembatasan jam ada baiknya juga, bagi remaja agar tidak main sampe larut malam , biasaya condongnya bukan ke kreatif tapi kebanyakan malah jadi jam untuk kenakalan
    OBAT BATUK ANAK

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap.. setuju, dan ini juga untuk kebaikan, bukan aturan sembarang aturan

      Delete