Antara Fiksi dan Fakta

January 15, 2014

Beberapa waktu lalu kak Ihan share sebuah blog yang mereview film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dimana si pemilik blog kayaknya gak bisa terima (atau lupa kali ya) kalau lakon di film itu adalah fiksi. Somehow si penulis complain tentang bagaimana budaya yang ditampilkan di film ini melenceng dari fakta. Yah..namanya juga fiksi ya, dan blog ini juga udah hilang dari peredaran.

Sedikit nyambung dengan kondisi di atas. Saya pernah jadi korban tulisan fiksi yang saya anggap nyata.

Adalah sebuah majalah muslimah A, yang isinya ada cerpen, cerbung, info-info menarik dll, yang sukses bikin saya dan orang-orang terdekat sedikit "tertipu" *ah..kata tertipu kurang tepat, kira-kira apa ya yang cocok?.

Anyway...

Dulu sering banget ada tulisan yang berlatar belakang perang, atau kondisi perjuangan muslim di daerah-daerah rawan perang. Salah satunya Sarajevo . Sarajevo selalu digambarkan sebagai wilayah perang, dimana muslim di bantai, dan juga selalu disangkutpautkan dengan Checnya, dan Palestine. FYI, jarak antara 3 daerah perang itu gak deketan loh, jauuhhh.

Saking yakinnya dengan cerita-cerita disana, banyak yang mempertanyakan keputusan saya untuk tinggal di Sarajevo waktu itu. Seminggu sebelum berangkat (bahkan sampe sekarang siihh ) banyak komentar-komentar soal kondisi di Sarajevo. Awalnya gak sadar juga dengan pemikiran saya sendiri (yang keranjingan baca majalah ini), sampai akhirnya sang pemasok majalah (aka abang saya) bilang; "kamu kebanyakan baca A ya? orang-orang juga, masak perang yang bertahun-tahu lalu udah usai masih dianggap ada". Hmm...

Yang jadi permasalahan adalah gimana saya bisa percaya gitu aja, ditelan mentah-mentah info yang kebenarannya gak ketahuan, dan satu lagi, itu tulisan fiksi miraaa!



Jujur, saya selalu menganggap tulisan, baik itu blog atau cerpen, pasti ada research sebelumnya. Terutama kalau menggambarkan suatu wilayah, at least si penulis udah tau sedikit. Misal di cerpen digambarkan tentang seorang penggembara yang melewati jalanan sepi sepanjang Grbavicka hingga bascarsija, dan sesekali menikmati gemericik air dari miljecka. Atau ketika mereka menggambarkan perjalanan para pejuang muslim dari negeri antah berantah yang satu ke yang lain *setidaknya sekarang ada fasiitas google map buat cari tau approximate jarak ya :D. Gitu juga dengan budaya, sedikitnya si penulis tau apa yang ingin dia tulis.

Baru-baru ini Nyanya juga posting cerpen di blognya. Detail lokasinya bisa saya bayangkan dan infonya bisa dipercaya (walopun kemungkinan diubah juga ada :D )karena emang saya tau Nyanya pernah tinggal disana. Gimana dengan yang lain? who knows.

Gitu juga dengan isi novel pengarang terkenal sekalipun. Dari dulu saya sering baca novel yang ada hubungannya sama Rusia, dan selalu digambarkan kalau Tsar dan keluarganya adalah orang-orang baik. Dan saya percaya itu (lagiii! ). Sampai akhirnya saya nemu novel Fall of Giant-nya Ken Follet yang menggambarkan kejatuhan Tsar yang tidak memihak rakyat. Nah loh. Akhirnya saya tanya ke teman asal Rusia, dan katanya sampai sekarang masih dilakukan penelitian sejarah, sebenarnya Tsar itu gimana. Nah!

2 dari trilogi ken follet, recomended book!



Tapiii...sedetail apapun info/tulisannya, bukan berarti 100 % benar, sama dengan yang ada di lapangan, and thats a real thing!. NOPE! Kalau kata kak Eky (dalam hal ini film); " Film itu sama dengan fiksi. Mau diangkat based on true story, tetap harus ada satu bagian yang dijadikan konflik. Kalau tidak, itu namanya film dokumenter, bukan film komersial". Yap!

Saya gak maksud mau menyalahkan si majalah yang nerbitin tulisan-tulisan itu, atau penulisnya, justru saya juga bego, tulisan fiksi kok dianggap nyata. Seharusnya hikmah yang bisa didapat dari isi tulisan itu yang diambil, sedang infonya silahkan di crosscheck dulu :) * Dan baru-baru ini saya kembali menikmati cerita-cerita di majalah ini *haahhha.

Btw, hal yang sama berlaku juga berlaku untuk berita-berita yang ada di media loh, jangan langsung diterima gitu aja, bahaya euy :) . And be aware, yang mana fakta dan yang mana fiksi



You Might Also Like

11 comments

  1. Ih aku disebut-sebut. Banggaa.. :')

    ReplyDelete
  2. Miraaa...apa yang mira tulis ini sama dengan apa yang sedang saya pikirkan. Begini maksud saya, saya baru menyelesaikan menonton film kolosal Korea, filmnya berseri. Jadi, film ini diangkat berdasarkan kisah salah seorang raja terkenal di dinasti Joseoan, namanya raja Sukjong. Sebelum menonton film itu, saya search dulu via Google, sejarah sebenarnya gimana.
    Nah, setelah saya tahu gimana sejarahnya, nontonlah saya. Memang agak melenceng dari fata sih. Tapi Once again, ini film komersial. Film ini fiksi, suka-suka sutradara dan penulis skenarionya dong mau mengangkat satu bagian kecil sebuah persoalan dari sebuah sejarah untuk dibesar-besar (menjadi masalah utama) di sebuah film.
    Daaan..meski rakyat Korea sekarang tau gimana fakta sejarahnya, mereka gak protes tuh saat film diluncurkan. Itu film tahun 2010. Dan sekarang dibuat lagi film dengan fakta sejarah yang sama, tentang raja yang saya cerita di atas juga, rilis April 2013 lalu. Tapiiiii...ceritanya berbeda. Mengapa? Karena ini yang buat rumah produksinya udah beda, sutradara dan penulis skenarionya beda, dan yang pasti dengan alasan seperti saya sebut di atas. Orang yang berbeda mengambil persoalan yang berbeda pula dr sebuah fakta sejara untuk dibesar-besarkan (menjadi masalah utama) di sebuah film. Yang kedua ini versinya agak jauuuuuh melenceng dr fakta sejara dibanding film yang pertama yang saya tulis di atas. Rakyat Korea yang hidup sekarang, apakah ada yang protes? NO! Mereka tau kok itu cuma film. Sebaliknya, kalo ada film dokumenteryang cerita bertentangan dengan fakta sejarah hidup raja tersebut, saya rasa pasti banyak yang protes.

    Coba bandingkan dengan di Indonesia, saat film Soekarno diluncurkan. Berapa banyak gelombang protes yang datang. Bahkan anak Sokerna sendiri, Rachmawati, ikut-ikutan protes.
    Nanti saya link di grup ya mira, sebuah tulisan yang bagus menurut saya, tentang lapis-lapis realita masyarakat Indonesia ketika melihat sebuah film ;)

    ReplyDelete
  3. eeeee..komen saya kok jadi panjang ya.
    Udah semacam tulisan di blog ituuu, wkwkwk...
    nantilah saya pindahin aja ke blog, soalnya gini, di grup sebelah, ada yang komen 'saya kecewa dengan filmnya, tidak sesuai dengan bukunya'
    Ini komen yang paliiiiiiing sering saya lihat jika sebuah film diangkat berdasarkan sebuah buku.
    Saya mau bilang, jangan pernah membandingkan sebuah buku dan film meski mengangkat cerita yang sama. Medianya udah beda.

    ReplyDelete
  4. aku pernah baca di grup sastra, walau sebuah film diangkat dari novel ibaratnya kayak kita dengar haba jameun dari nenek kita dulu lalh, pasti ngga sama persis kayak kejadian yang sebenarnya, sama kayak kita baca buku tentang Sultan Iskandar Muda misalnya trus kita cerita ke orang lain, atau kita buat versi cerpennya, pasti ngga bakalan persis juga

    ReplyDelete
  5. Emang, yang namanya fiksi ya tetap fiksi. Biarpun ada fakta di dalamnya, tetap aja ada bagian fiksinya dan sering ada dramatisasinya.

    ReplyDelete
  6. Aih, komennya Eki panjang sekali, jadi ingat diriku dahulu, yang suka komen panjaaaaang banget di kolom komentar orang. Hehe. #Halah, kok malah ngomentari komen Eki ya? Maap. :)

    Saya sepakat dengan Mira dan Eki, bhw yang namanya tulisan fiksi, walau pun based on true story, ya tetap aja harus diselipkan konflik/fiksi di dalamnya biar lebih 'menggigit' critanya, krn kan bukan bikin film/cerita dokumenter yak?

    Salam kenal, Mira.

    ReplyDelete
  7. nyanya hahahahahaha

    k.eky & k.ihan iya kak, setuju. sekali lagi, namanya juga fiksi ya :D

    alvawan :D

    k.alaika makasih udah mampir.

    kakak2 smua..maaf ya gak pernah ninggalin jejak di blog kalian, gak ngerti kenapa slalu error :('

    ReplyDelete
  8. mira termasuk yg dulu sering komen kenapa filmnya gak sama dengan buku haha.. alhamdulilah sekarang udah insaf :D .


    Millati. yap! (y) tapi gak jarang kita temui orang yang masih bingung ngebedain mana fiksi mana nyata, lebih parah lagi kalo sampe ngerasa yg fiksi itu nyata.

    ReplyDelete
  9. Ceritanya lucu mba, saya baru pertama kali main kesini, dan salam kenal persahabatan :)
    ngomong2 mbak beneran tinggal di Sarajevo nih? keren donk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh..makasih udah mampir :)

      Iya..dulu sempat hampir 4 tahun di sarajevo :)

      Salam kenal juga dari pinggiran Bonn ;)

      Delete