[FILM] Di Balik Frekuensi : What a fact!

December 13, 2013

Pada tau film Di balik frekuensi? Atau malah mungkin udah nonton?

Di awal, film ini mendokumentasikan perjuangan salah seorang karyawan stasiun tv, yang awalnya minta station tv ini untuk lebih care dengan kesejahteraan karyawannya, dan minta dibentuk serikat pekerja disana. Tapi justru akhirnya berujung ke pemecatan si karyawan ini. Itu salah satu poin dari film ini.



Tapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana para konglomerat di Indonesia menguasai media cetak dan elektronik. Dari sekian banyak (gak ingat persisnya seratus berapa) media yang ada, ternyata dikuasai oleh 12 orang saja. WOW. Dan beberapa diantaranya adalah para petinggi di partai-partai nasional, yang (udah dari kapan tau, dengan menggunakan media yang mereka punya) siap "bertempur" di pemilu 2014 nanti.



Tentunya udah jadi konsumsi publik, bagaimana media-media yang mereka bawahi berperan penting dalam memperkenalkan partai ke publik, sibuk mempromosikan dan mengkampanyekan boss mereka. Stasiun TV A dengan boss A, stasiun TV B dengan boss B, udah pasti A nampilin kelemahan si B, dan gitu juga sebaliknya, tapi gak untuk kelemahan sendiri. Walopun kalau dilihat kembali, media harus menyampaikan fakta yang ada di lapangan kepada publik, faktanya..yaa..jauh ya. Yang di indo, yang tiap hari melihat langsung kondisi ini, tentu lebih tau (kecuali klo yg sibuk nonton dahs*at dan gosip yee :p )

Hal menarik lainnya adalah tentang kasus lumpur lapindo. Well..si pemilik perusahaan juga petinggi di partai, yang juga pemilik 2 stasiun tv.

Salah seorang korban dari lumpur lapindo ini melakukan aksi jalan kaki dari sidoarjo sampe ke jakarta yang memakan waktu hampir sebulan. Beliau tentunya menuntut pemerintah menyelesaikann masalah ini. Dari awal digambarkan bagaimana beliau cukup berkoar-koar, minta si konglomerat untuk bertanggung jawab. Bahkan ketika di wawancarai oleh wartawan dari media yang satu itu, beliau terang-terangan menolak. Tapi menjelang akhir film, ditampilkan wawancara ekskusif beliau dengan media yang satu itu, sambil nangis dan minta maaf atas aksi berjalan kaki itu - yg katanya disuruh sama teman-temannya- , dan bilang kalau beliau tau, si konglomerat ini pasti bisa menyelesaikan kasus lumpur lapindo. Err..

The weak can never forgive, forgiveness is the attribute of the strong (Mahatma Gandhi)

*quote yang muncul di film ini, beberapa saat setelah si bapak korban lumpur lapindo minta maaf di media

Sekilas saya sempat mikir, si korban ini belakangan balik ke kampungnya gak ya? Dan di akhir film, terjawab sudah. Beliau gak balik ke kampungnya, dan menghilang dari peredaran.

FIlm menarik, tapi sayangnya gak ada di youtube, atau malah mungkin gak diputar di bioskp-bioskop di Indonesia? Setelah googling, ada beberapa postingan yang katanya nonotn flm ini di kampus atau komunitas-komunitas lainnya. Gitu juga dengan saya di sini. Salah seorang teman dari indo dapat film ini dari produser atau siapalah yang berkecimpung langsung dalam pembuatan film ini, jadilah kita nobar nya online, pake teamviewer -_-' *katanya juga, film itu gak boleh diupload, cba kalo boleh ya, makin banyak yang tau.

Ah Indonesia.. speechless jadinya

You Might Also Like

2 comments

  1. ini film yang dibuat oleh komunitas kalau ga salah kak. kemarin liza juga habis nonton film terpenjara di udara

    ReplyDelete
  2. menarik tu kayaknya liza, filmnya beredar bebs g tu?

    ReplyDelete