Tsunami dalam Ingatan

December 22, 2011

7 tahun yg lalu …..

26 Desember 2004, masih tergambar jelas suasana pagi itu. Gempa dengan kekuatan yang tidak pernah terbayangkan, hiruk pikuk suara kendaraan di jalan, suara hantaman gelombang tsunami yang datang tiba-tiba dan menerobos masuk ke rumah itu.

Masih terekam jelas ketika semua berubah jadi hitam, ketika terminum air pekat yang ntah dari mana asalnya, yang tiba2 memenuhi seluruh ruangan di rumah itu, sebagian besar daerah itu.

Rumah itu terlihat seperti benteng kokoh, yang bila dimasuki selamat lah kita dari segala macam mara bahaya.Jeruji salah satu jendela rumah itu, disitulah akhirnya saya dan beberapa teman lainnya menggantungkan harapan. Berdoa semoga air ini akan segera surut, kita akan selamat, dan semua akan kembali seperti sedia kala. Berharap akan datang bala bantuan, mengeluarkan kita dari kurungan air nan pekat itu.

Ntah berapa jam kami disana....

Si adik kecil menangis kehausan, tapi tidak ada air bersih di sekitar kami. Ketika sang ibu cuma bisa menangis, sambil terus berdoa, berharap. Dan air mata beliau tidak dapat dibendung lagi ketika tiba2 ada yang datang membawakan beberapa butir kelapa muda, sambil terus berucap Allah Allah Allah...

Seorang perempuan muda, yang hampir sama sekali tidak bisa dikenali, merintih minta tolong. Terbawa derasnya arus tsunami, ntah darimana, hingga terdampar bersama kami di jeulingke ini.

Mayat seorang bayi ditemukan. Ketika tersadar ada seorang teman yang ntah dimana ia nya saat itu. Ketika mendapat kabar daerah keluarga saya tinggal porak poranda tak bersisa.

Terbayang di kepala saya, seandainya malam itu saya tidak menginap di kost-an teman, seandainya malam itu saya tetap di rumah seperti hari-hari lainnya..seandainya..seandainya..

Sampai akhirnya air mulai surut.

Pulang. semua berfikiran yang sama, pulang. Saya beranikan diri untuk berpisah dari dari teman2 (yang semuanya berjalan ke arah Mesjid raya), dan pulang ke tempat keluarga saya yang katanya tak bersisa itu.

Sepanjang jalan terlihat orang2 yang menangis, mencari sanak keluarga mereka yang hilang, melihat satu persatu mayat-mayat yang dibaringkan di jalan, memastikan keluarga atau bukan, namun terus berharap semoga keluarga yang dicari selamat dari bencana.

Alhamdulillah..di jalan pulang saya bertemu dengan abang ipar yang waktu itu juga sedang mencari-cari saya, menerka-nerka dimana kiranya saya waktu itu. Tanpa tanya, tanpa sepatah kata, sepanjang jalan pulang, di dalam hati saya terus berdoa, semoga keluarga saya semuanya selamat.

Alhamdulillah semuanya selamat, alhamdulillah bisa kembali berada di tengah orang-orang tercinta. Alhamdulillah.



dimuat di serambi hari ini, dengan judul yg berbeda


Bonn, 22.12.2011

You Might Also Like

1 comments

  1. jangan tanya knp judul yg dipublish disana jd jauuhh dr inti tulisan ini.. hanya mereka yg tau :D

    ReplyDelete