Monday, July 20, 2020

4 Years and Counting ..

MashaAllah, ternyata udah 4 tahun saya sah jadi dosen di sebuah PTN di Aceh ini. Dari sesuatu yang dihindari, hingga kemudian memantapkan diri untuk berkecimpung langsung di dunia akademik ini.

Sekitar tahun 2016, ketika pertama kali bergabung di kampus, saya sempat menuliskan kondisi saat itu. Semuanya terjadi karena omongan saya diaminkan malaikat, kata saya waktu itu. Bukan tahun yang mudah, masih shock jadi dosen, harus bersikap dewasa nan bijak dengan mahasiswa, harus sangat hormat dengan dosen-dosen lain. Rasanya kok ya gak bisa casual aja hubungannya.

Setahun kemudian, pikiran saya berubah lagi, gak mampu di jurusan TI ini, saya pengen pindah ke jurusan bahasa inggris. Beloknya memang jauh sodara-sodara. Itu juga karena pernah 1 semester ditawarkan mata kuliah di prodi itu. Jatuh cinta rasanya sama prodi sebelah, karena kuliahnya banyak ngobrolnya. Padahal bisa jadi, cuma di satu mata kuliah itu aja sayanya nyaman mengajar, mungkin cuma kebetulan di semester itu, mood saya happy terus, mahasiswanya juga seru-seru. Di tahun ini, selain pengen pindah prodi, sempat juga ditanyain dan disarankan untuk ikut test CPNS tahun itu. Jawaban saya sangat tegas, NO !



class in hall

Itu tahun 2017, beda ceritanya di tahu 2018. Pertanyaan soal CPNS datang lagi. Dari NO berubah ke..boleh lah ya dicoba. Mendadak galau karena ada keinginan terselubung lainnya kalau rejeki dan lulus PNS; banyaknya beasiswa yang dikhususukan bagi dosen :D . Akhirnya, dengan berbagai drama, lupa akun BKN, lupa submit berkas padahal di saat yang sama sedang seru-seruan di Bromo, sampai di hari kelulusan sempat berfikir untuk menolak dan cabut dari kampus, hati berkata lain, hayuk jadi dosen.



Diskusi santai di halaman fakultas
Diskusi santai di halaman fakultas


Kalau di tahun 2016 itu reaksi abang dan kakak mempertanyakan keputusan jadi dosen, di 2018 si kakak malah ketawa ngakak.
"Udah gak ada alasan buat kemana-mana lagi ya, netap di aceh kamunya', kata si kakak ketika saya mengabarkan kelulusan.

Well, yeah. Here I am, now.

Di tengah-tengah kondisi pandemic dengan kelas daringnya, di saat mood lagi naik turunnya (sabee :p ), diingatkan sama beberapa teman yang sama-sama melewati fase 4 tahun ini.

Udah betah? masih akan terus beradaptasi, untuk bisa betah di sini
Kuliah lagi? maunya gitu, apa daya, cita-cita mau kemana masih blur, belum kelihatan hilalnya kalau kata orang-orang

Nikmati aja? Hooh, semoga gak kelewat menikmati sampe lupa masih harus upgrade ilmu hehe

Enjoy your choice


Bismillah..
smoga niat mengabdi di sini gak berbelok ke yang tidak-tidak. Walaupun awalnya karena mikirin beasiswa, tapi belakangan udah diluruskan kok, beramal :D
Continue reading 4 Years and Counting ..

Sunday, July 19, 2020

Hari ini, aku rindu bapak, lagi

Rindu bapak, seolah jadi kalimat tabu. Mengungkapkan perasaan seperti ini bukanlah sesuatu yang normal di rumah, di keluarga besar. Tapi belakangan aku mencoba mengganti yang dianggap tabu menjadi sesuatu yang pada hakikatnya adalah hal yang biasa. Aku mengakui rasa dengan kata, yang diucapkan secara lugas, bahwa aku rindu sosok yang tak pernah kukenal dan tak ada kenangan tentangnya. Ungkapan ini seolah menjadi salah satu pengobat rasa.



Sejak menikah, frekuensi rindu ini semakin menjadi-jadi. Bisa jadi karena setahun terakhir aku tidak ziarah ke kuburan bapak. Di saat rindu semakin menjadi-jadi, covid menghampiri. Lagi, bepergian keluar kota masih tidak memungkinkan. Beberapa kali merencanakan pulang, selalu saja ada halangan yang tak bisa dielakkan. Rindu bertemu, tapi kondisi tak memungkinkan.

Doa untuknya? selalu.

Di awal menikah, suami cukup bingung menghadapi diri ini yang semenit-menit rindu, setiap saat bisa berubah mood karena rindu. Bahkan ketika ayah mertua datang, aku yang masih beradaptasi dengan tiba-tiba punya ayah, mendadak moody. Jika bapak ada, aku akan bagaimana, jika bapak mengatakan hal A, aku akan merepson seperti apa.Alhamdulillah, bersyukur punya suami yang cukup bisa menerima kondisi rindu ini.

Awalnya cuma sebagai pendengar yang baik, hingga perlahan suami mulai menanyakan, bagaimana mungkin aku rindu seseorang yang tentangnya tak ada yang kuketahui, yang kenangan tentangnya bahkan tak ada sama sekali. Sama, seandainya aku tau, aku bisa langsung menjawab.

Bapak, akuu rindu, cuma pengen ngobrol sama bapak, cuma pengen duduk di samping kuburan bapak, trus cerita macan-macam. Udah.

Aku rindu, selalu.





Continue reading Hari ini, aku rindu bapak, lagi

Sunday, June 21, 2020

Akses Kesehatan di Masa Pandemic

Beberapa hari terakhir, berita terkait Covid-19 di Aceh diisi dengan peningkatan jumlah pasien yang positif. Deg-degan? banget. Apalagi terus terang sejak beberapa waktu lalu, suka horor kalau keluar rumah kelamaan, ntah itu ke pasar, ke warung kopi atau ke dokter yang belakangan ini memang kondisinya harus check-up beberapa kali dalam sebulan. Apalagi masyarakat udah mulai ninggalin masker, atau sekedar dipake tapi gak nutupi hidung dan mulut. Sekedar ada. 

Satu sisi, berita-berita negatif ini memang gak baik buat kesehatan mental kita. Rasa khawatir semakin menjadi-jadi, ketakutan yang gak jelas juga. Tapi di sisi lain, justru ini seperti alarm untuk masyarakat, kalau sebenarnya Aceh itu gak bebas dari ancaman Covid-19 itu sendiri. Dan itu nyata adanya. 

Di rumah aja tetap jadi salah satu cara terbaik mengurangi penyebaran virus ini.

Bepergian keluar daerah? Tetap bukan prioritas, kecuali memang ada keperluan mendadak dan mendesak, mau gak mau ya tetap bepergian. Jujur aja, saya beberapa kali ngajakin suami ke Sabang sekedar buat menenangkan diri, kangen laut dan berbagai alasan lainnya. Alhamdulillah godaannya gak ngaruh di suami, dianya malah keukeuh untuk gak kemana-mana dulu sampai kondisi benar-benar stabil lagi. Siapa yang bisa jamin kalau selama dalam perjalanan kita aman-aman saja, atau malah bisa jadi kita yang ikut membawa si virus ke pulau seberang. 

                             


Seorang teman dekat pernah cerita gimana ribetnya dia waktu mau balik ke Eropa dengan transit di Jakarta terlebih dahulu. Segala surat-surat persyaratan untuk ijin terbang itu seabreg banyaknya. Mungkin, kalau di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dll pengurusan surat ini gak seribet di tempat kami tinggal. Dengan ilmu dan koneksi terbatas, segala pengurusan jadinya banyak terhambat. Belum lagi misalnya yang dipahami sama yang terjadi di lapangan berbeda, bingung lagi jadinya kan. 

Contohnya soal rapid test. 

Dari awal, si teman udah mulai cari-cari tau soal test ini di beberapa media. Walaupun pada saat itu sudah ada beberap pasien positif, di beberapa tempat umum juga sudah pernah dilaksanakan rapid test, tetap aja informasi terkait test ini masih ngambang, gak jelas dimana sebenarnya.  Mungkin lain ceritanya kalau punya keberanian untuk langsung ke rumah sakit dan cari tau langsung ke pusat layanan kesehatan. Si teman terlalu takut untuk kesana. Well, serem juga sih ya ngebayanginnya. Tapi urgent kan. 

Jumlah Terpapar per 21 Juni 2020 | Sumber


Belum lagi seorang teman lainnya yang mendadak harus ke daerah zona merah, mengantar sang ponakan yang udah mulai masuk sekolah. Menjelang pulang, dia ngabari beberapa teman sekaligus menanyakan soal rapid test. Jawaban paling sering didapat ya. ' google aja coba' . Alias cari tau sendiri, infonya banyak di internet. Kebayang ya, info krusial seperti ini bertebaran di media, tapi bukan dari pakarnya. Saya yang belakangan terus berurusan dengan dunia kesehatan akhirnya menyarankan untuk cari informasinya di Halodoc. Karena udah melihat seperti apa aplikasi ini, dan sudah merasakan manfaatnya, beranilah saya untuk menyarankan si teman mengecek langsung di sana.

Btw, halodoc ini adalah aplikasi yang memungkinkan masyarakat untuk dapat informasi seputar kesehatan secara daring. Misalnya kita butuh segera konsul dengan pakar kesehatan, maka Halodoc memudahkan proses ini. Gak cuma sekedar konsul aja, aplikasi ini terhubung dengan Apotek  via aplikasi ApotekAntar dan lab juga. Jadinya masyarakat bisa konsul sekaligus dibantu sepenuhnya. Dengan kondisi saat ini yang serba tidak pasti serta ancaman Covid-19, aplikasi Halodoc benar-benar membantu kan ya. 

Informasi Rapid Test Via Halodoc | Sumber  Halodoc

Info soal covid-19 juga cukup lengkap disediakan di sini, sampai informasi tempat rapid test terdekat juga ada. Lengkap dengan alamat dan biaya test yang harus dikeluarkan untuk bisa ikut testnya, tergantung jenis test yang diinginkan.  Bisa dibilang app ini sebagai One Stop App, satu aplikasi (kesehatan) yang semuanya bisa dilakukan via daring. 

Di masa yang serba gak pasti ini, serba was-was untuk beraktifitas di luar, informasi online tentulah jadi pilihan. Dari mulai transportasi, belanja online yang meliputi belanja kebutuhan sehari-hari, sampai informasi kesehatan. Tentunya sebagai masyarakat yang cerdas, tentu harus cerdas pula dalam mencari informasi, yang valid dan tentunya terpercaya. 

Masyarakat yang cerdas juga senantiasa mengikuti protokol kesehatan kan, kalau ga terlalu mendesak, di rumah saja lah. Semoga dengan segala usaha ini, corona segera pergi dari muka bumi. 

Dear bumi, cepat baikan ya















x
Continue reading Akses Kesehatan di Masa Pandemic